Rabu, 29 Oktober 2008

Di balik layar Anugerah Sagang


Panitia pose bersama,
mana saya?


Trophi diarak ke tengah panggung


Prosesi Anugerah Sagang


Lenggak-lenggok di panggung


Pembawa acara nan memikat


Terpukau tarian


Malu, jangan di foto

Selalu Begitu….


“Lagi dimana, tolonglah ke bawah sebentar, dibelakang panggung. Tak ada orang yang mau ngangkat podium. Sebentar lagi acara dimulai….”

SUARA di telepon gengam itu terdengar nyaring dan nadanya sangat-sangat khawatir. Malam itu, dibalik kaca kamar lantai 10 Hotel Ibis Pekanbaru, saya mencoba melongokkan wajah melihat suasana di bawah. Di seputar kolam renang masih terlihat tamu sedang menikmati makan malam. Sementara di area parkir, antrean kendaraan sibuk mencari lokasi parkir mobil mereka dan nampak masih banyak tamu yang berjalan menuju ruangan aula. ‘’Ya, kami di kamar. Tunggu sebentar, kami akan ke sana,’’ ujar saya sambil mengemas-ngemas ratusan tas berisi buku-buku yang akan diserahkan nanti kepada tamu.

Begitulah, selalu begitu. Hampir di setiap acara budaya Anugerah Sagang yang setiap tahun rutin dilaksanakan Riau Pos, saya dan rekan se geng, Kadir, selalunya kebagian mengangkat podium. Padahal dalam daftar kepanitiaan, begitu banyak nama yang berbakat dan mempunyai keahlian angkat-mengangkat. Namun kami tidak mempermasalahkan hal tersebut dan hanya senyum-senyum saja.

Ya, begitulah, mengangkat podium di atas panggung yang dihadiri ratusan tamu memang tak membuat kami terbebani. Malah kami enjoy saja demi kesuksesan acara budaya nan bergengsi ini. Namun ada tak enaknya, kena sindir di rumah oleh istri, mertua atau teman-teman. Hal ini tak lain karena acara Anugerah Sagang ini disiarkan langsung oleh Riau Televisi dan disaksikan masyakarat Riau. “Eh, tadi papi masuk di tipi di acara Sagang. Cuma sebentar kok, lagi ngangkat podium,’’ ujar nyonya di rumah sambil terkekeh.

Atau olok-olokan lain dari teman-teman. ‘’Ah, katanya menjabat sebagai Koordinator Bagian Umum di Sagang, tapi kok kerjanya ngangkat podium,…” Namun biarlah, yang penting apa yang bisa dikerjakan, ya dikerjakan. Tak peduli jabatan di kantor atau di panitia apa, yang penting ya kami kerja saja. Karena bagian mengangkat podium, membawa papan cover buku untuk ditandatangani, memang setiap acara sagang selalu kami lakukan. Selain kegiatan bagi-membagi ratusan undangan untuk para budayawan, seniman, pejabat, kalangan wartawan, konsul asing, pihak bank, kalangan pengusaha hingga mahasiswa beberapa hari sebelumnya.

Malah seorang rekan yang setiap tahun menjadi “driver” tetap untuk mengantar undangan sempat mengatakan bahwa apa jadinya kalau kami mundur atau tak ikut dalam daftar kepanitiaan anugerah besar ini. Pasti yang mengantar undangan untuk tamu akan kerepotan sekali. Karena undangan tak dilengkapi alamat yang jelas dan hanya berupa nama tamu saja. Bisa-bisa undangan tak sampai-sampai. Tapi menurut saya, biasa saja, Cuma memang butuh tanya sana-sini dan perlu waktu panjang jika pengantar undangannya dilakukan orang lain. “Masa seorang koordinator liputan Riau Pos tugasnya mengantar undangan,’’ ejek yang lain kepada Kadir, rekan se geng.

Namun kerja keras itu pun akhirnya terbayar. Malam Anugerah Sagang ke-13 tahun 2008 ini bisa dibilang sukses. Ratusan tamu menempati aula Hotel Ibis dengan panggung berupa kipas yang dilengkapi tiga screen TV besar yang menyiarkan acara di televisi sekaligus sebagai penghias panggung. Bahkan kamera dengan berputar yang khusus untuk acara live di ruangan pun dipasang dalam gedung agar acara nampak lebih nyata di televisi.

Apa kerja kami selanjutnya selain ngangkat podium? Ya, itu tadi menurunkan 500 tas yang berisi 8 buku karya budayawan yang diterbitkan Yayasan Sagang. Dari kamar lantai 10, dengan troli hotel dibantu seorang room boy, kami pun bergotong royong melansir tas-tas tersebut ke belakang panggung. Saya lihat peluh bercucuran di pelipis sang room boy akibat turun naik membawa tas-tas tersebut. Perlu juga nampaknya jerih payahnya dihargai sedikit dengan materi, dan ia pun tersenyum bahagia saat melihat saya saat acara usai di meja resepsionis.

Namun disaat acara telah berakhir, ada sedikit kejadian yang membuat kami jengkel. Hingga kami pun dengan sangat terpaksa meninggalkan ruangan aula dan teman-teman lain guna mengisi perut yang keroncongan akibat belum makan malam. Dengan masih berpakaian ala Hang Tuah, kami pun menikmati makan malam di Cikapundung Pasar Sukaramai Jalan Sudirman. Kami lalu menghabiskan sisa malam di lain hotel. Sambil menikmati siraman air hangat di shower yang menyegarkan tubuh akibat keringat yang lengket di badan, segar……



1 komentar:

Dewi Febsuri mengatakan...

pak yose yang mana yaaa..salam buat pak Rida dan Bu Rida ya..