Jumat, 14 Agustus 2020

Wisata Patung Lilin, Akuarium Raksasa dan Air Terjun dalam Mall


*Catatan Perjalanan Media Trip Amazing Thailand (habis)

Bagaimana rasanya jika bertemu dengan seorang idola yang sangat didambakan. Tentu kaget dan salah kaprah. Hal ini menimpa salah seorang peserta cewek yang ikut rombongan Media Trip. Tanpa malu-malu ia memeluk dan mencium pipi Will Smith, sang aktor kesukaannya saat bertemu di Bangkok,

Laporan Yose Rizal, Bangkok

LALU bagaimana reaksi sang aktor mendapat perlakuan tersebut. Si aktor ternyata hanya diam membisu seribu bahasa dengan tatapan mata yang kosong. Ya, wajar saja. Karena yang dipeluk sang gadis tersebut adalah sebuah patung lilin di Madame Tussauds, Bangkok. Walaupun hanya sebuah patung, namun bentuk fisik sang aktor sangat-sangat serupa dan mirip dengan yang aslinya. Sehingga jika kita berfoto dengan sang patung maka seperti berfoto dengan orang yang bersangkutan.

Museum Madame Tussauds adalah sebuah museum yang mengkoleksi patung lilin pesohor-peshor dunia. Terdapat 24 museum serupa yang berada di kota-kota terkenal dunia. Untuk wilayah Asia Tenggara, museum ini hanya ada di Kota Bangkok dan Singapura. Untuk Bangkok sendiri Museum Madame Tussauds ini berlokasi di lantai 4 Mal Siam Discovery. Disini terdapat sebanyak 75 patung lilin orang terkenal dunia. Indonesia patut berbangga karena patung lilin Presiden pertama kita Ir Soekarno menempati tempat pertama di pintu masuk. Dengan jas warna putih, Presiden Sokarno berpose dengan senyumannya yang khas. Sementara disampingnya dipajang Burung Garuda serta sebuah kotak kaca yang berisi tongkat asli sang proklamator.

Rombongan kebetulan sampai pada saat museum baru dibuka di pagi hari. Sehingga tidak terlalu ramai pengunjung dan bisa berfoto dengan nyaman bersama tokoh idola yang ada di dalam. Menurut keterangan Operation Admin Officer, Unalom Keeratipoj bahwa setiap harinya sebanyak 500 sampai seribu orang datang melihat koleksi patung lilin ditempatnya. Untuk tiket, anak-anak dibawah usia tiga tahun gratis, sedangkan usia 3-11 tahun dikenakan tiket 790 baht atau Rp379 ribu dan dewasa 990 baht atau Rp476 ribu.

Disesi pertama akan kita temui para pemimpin dunia yang sangat berpengaruh. Seperti Mahatma Ghandi, Soekarno, Mahatir Muhammad, Barrack Obama serta yang lainnya. Kemudian beralih ke ruangan lainnya adalah par penyanyi terkenal seperti Michael Jackson, Beyonce. Madonna dan deretan penyanyi lain. Lalu beralih ke bintang film dari klasik hingga saat ini, Bruce Lee yang ikonik, hingga tokoh marvel semacam Kapten Amerika, Spiderman, sampai juga ke tokoh Bollywood seperti Shahruk Khan. Ada juga legenda olahraga seperti David Beckham dan yang lainnya serta para aktris dan aktor terkenal seperti tadi si Will Smith, Leonardo Di Caprio, Jackie Chan, Johnny Depp.

Usai berfoto dan melihat koleksi patung lilin Madame Tussauds, kami diarahkan ke lantai atas untuk  melihat film 3 dimensi Ice Age. Suasana ruangan d idekorasi seperti di padang salju dengan hewan khas film tersebut. Di dalam bioskop penonton diberi kacamata 3D. Dan ketika film diputar tiba-tiba salju putih turun dalam ruangan bioskop sebagaimana layar juga memperlihatkan suasana salju. Bangku pun bergerak mengikuti irama dalam film. Selama 10 menit, penonton dibawa berpetualang di alam bebas yang penuh salju.

Puas berkeliling dan berfoto ria, selanjutnya kami arahkan ke Mal Siam Paragon.Mal ini bersebelahan dan dengan berjalan kaki saja, pengunjung sudah pindah mal. Di Siam Paragon ini, terdapat akuarium raksasa berikut dengan makhluk hidup bawah airnya. Namanya Bangkok Ocean World. Tempat ini terletak di bagian paling bawah Mal Siam Paragon. Disini kita diajak melihat kehidupan bawah air. Bermacam-macam jenis ikan dipamerkan dalam akuarium raksasa ini. Pengunjung diajak jalan berputar-putar berkeliling dari atas hingga ke dasar. Di sepanjang lorong kiri dan kanan berhiaskan akuarium-akuarium yang berisi aneka hewan laut dari tropis hingga kutub.

Di tengah area, dari dasar hingga ke atas, terdapat akuarium raksasa berisi bermacam ikan termasuk hiu yang besar-besar hilir mudik. Layaknya Sea World di Indonesia, pengunjung juga melewati lorong kaca dalam akuarium sehingga bisa melihat aneka ikan mulai dari atas kepala hingga di bawah kaki. Saat kami disana sedang dilakukan atraksi memberi makan ikan dan pembersihan karang oleh beberapa penyelam. Sebagaimana tempat hiburan lainnya, saat di pintu keluar disediakan berbagai macam souvenir dan merchandise yang dijual kepada pengunjung.

Masih belum puas, lalu lokasi wisata yang dituju kali ini adalah wisata sejarah. Namanya Lhong 1919. Terletak di tepian Sungai Chao Phraya, tempat ini sarat dengan bangunan lama nan eksotis untuk tempat bersantai, menikmati hiburan dana tempat makan minum dan hang out. Dulunya tempat ini adalah sebuah gudang beras dan rumah milik seorang warga Thailand keturunan Cina. Lama terbengkalai, akhirnya tempat ini disulap menjadi lokasi yang menarik untyuk kunjungan wisata. Di sini pengunjung bisa menikmati suasana tepi sungai. Gudang-gudang  yang jadi tempat makan dan minum, galeri seni, dan juga ada kuil. Halaman dalam sangat luas dan pengunjung bisa bersantai dikursi yang disediakan di tengah halaman. Beberapa peninggalan barang-barang lama sengaja dipertontonkan.

Usai mengunjungi wisata Hertitage, dengan memakai kapal, kami bergerak menuju  IconSiam. Sebuah mall terbesar dan termegah yang saat ini baru dibangun di Kota Bangkok. Saat sampai, kami melihat layar raksasa terpasang di halaman mal dengna kursi-kursi yang dipenuhi penonton. Ternyata saat itu sedang ada siaran langsung acara raja baru Thailand dengan puluhan perahu di sungai Chao Phraya. Kami lalu diajak pengelola mal berkeliling di  tempat perbelanjaan yang baru dibuka 2 tahun lalu ini.

Memang menarik dan detail dibuat oleh mal ini. Di lantai dasar mal yang luas, dubuat bangunan-bangunan sesuai dengan empat region yang ada di Thailand. Deretan ruko zaman dahulu berdiri di dalam. Kita seperti tidak berada dalam mal karena ruko-ruko ini dibangun permanen dan penuh pengunjung yang sedang makan dan minum di dalamnya. Disisi lain bagunan, dibuat konsep bangunan kayu dengan air dibawahnya, seperti floating market. Sampan-sampan pun ditambat disana. Ratusan pedagang tradisional menjajakan dagangannya, mulai dari kue putu, kue serabi hingga mie goreng dan aneka makanan lain. Seperti layaknya pasar tradisional, namun berada dalam mal.

Namun semua itu berubah saat naik ke lantai 2. Suasana mal sebagaimana umumnya kembali terlihat, Ada 8 lantai mal ini. Di lantai 2 disediakan ruangan khusus yang penuh dengan tumbuhan dan bunga serta tempat duduk bersantai untuk pengunjung. Berbentuk anjungan yang langsung menghadap sungai Chao Phraya. Namun yang menarik adalah saat berada di lantai 8, tiba-tiba dari atas ruangan meluncur air terjun ke bawah. Dengan ketinggian sekitar 8 meter, air terjun yang turun poun membentuk tulisan dan aneka macam motif.

Menjelang malam, kami diajak dan bergegas ke halaman Mal IconSiam. Disana sudah banyak pengunjung berdiri berjejer. Tak lama kemudian tiba-tiba air mancur muncul di tengah halaman dengan meliuk-liuk dan beratraksi. Tak hanta itu, sinar laser turut memperindah aksi pertunjukan air mancur ini. Penonton pun berdesakan mengabadikan momen ini.

Thailand memang harus kita acungi jempol dalam menciptakan tempat yang bisa dijadikan objek wisata. Tanpa menunggu keajaiban alam, mereka berkreasi membuat hiburan sendiri yang mjenarik. Contohnya mal, di Thailand sepertinya mal tidak pernah sepi. Selalu banyak pengunjung, terutama para turis. Mereka selain melihat lokasi wisata dalam mal juga bisa makan dan berbelanja termasuk souvenir lokal yang dijual dalam mal.

Bahkan sebuah tempat penjual khas souvenir dan oleh-oleh bernama Asiatique penuh dengan turis yang berbelanja. Parkiran depan pasar ini penuh dengan bus-bus besar. Lokasi pasar yang luas dan tertata rapi serta harga yang murah dengan kualitas barang bagus membuat tempat ini jadi lokasi kunjungan sebelum turis pulang ke  negara mereka. Termasuk kami rombongan media trip yang harus mengosongkan dompet di pasar ini sebelum besok pagi sudah harus ke bandara Suvarnabhumi untuk kembali lagi ke Indonesia. Terima kasih Tourism Authority of Thailand (TAT) Jakarta. Sampai bertemu lagi di perjalanan lainnya.*** 


Dipeluk Ladyboys hingga Kengerian di Atap Lantai 78



*Catatan Perjalanan Media Trip Amazing Thailand (2)

Selain keindahan pantai dan aneka makan seafood-nya, Pattaya juga terkenal dengan pertunjukkan kabaretnya. Salah satunya adalah Alcazar Kabaret. Dengan tagline A Unique Magical Experience, para pengisi acara atau penari panggung kabaret ini adalah para ladyboys atau waria.

Laporan Yose Rizal, Pattaya

BANYAK yang tidak percaya ketika Riau Pos membagikan foto saat bersama ladyboys pengisi acara Kabaret Alcazar di media sosial, dan mengatakan bahwa mereka itu adalah waria. Sekilas terlihat, mereka seperti cewek pada umumnya dengan dandanan dan senyum layaknya sang miss universe. Bahkan terbilang lebih cantik jika dibandingkan wanita tulen. Namun begitulah waria di Thailand, berkat operasi yang apik dan ciamik, mereka berubah drastis jadi wanita sebagaimana mestinya.

Kami sampai ke lokasi gedung kabaret usai makan malam. Makan malam kami di sebuah restoran tepi pantai Pattaya yang eksotik. Hidangan menu laut, mulai dari udang, cumi, ikan serta lainnya yang disajikan, ludes dalam sekejab. Suasana senja yang indah dengan deburan ombak serta pemandangan gedung bertingkat pusat kota membuat nafsu makan makin bertambah.

Menjelang pukul 7 malam, kami sampai di lokasi pertunjukan. Di parkiran gedung Kabaret Alcazar sudah penuh dengan bus-bus pariwisata yang berjejer. Malam itu, gedung pertunjukan bakal penuh dengan penonton jika melihat jumlah kendaraan di parkiran. Ternyata memang betul. Walaupun pintu dibuka sekitar jam 8 malam, namun penonton sudah berjubel.

Dari raut wajahnya, para penonton kebanyakan terlihat berasal dari negra India dan wilayah sekitarnya serta dari negara China dan Jepang. Namun ada juga wajah-wajah bule dari Amerika dan Eropa Timur.  Dan memang penonton ini adalah wisatawan semua dan tak ada orang lokal. Mungkin saja para wisatawan penasaran dengan pertunjukan para waria ini.

Secara khusus, dua orang waria pengisi acara dengan pakaian seksinya datang menemui kami di lobi depan. Mereka pun kemudian diarahkan berfoto bersama kami di depan poster. Saat foto sesi seorang diri, saya terkejut saat digandeng dan dipeluk seorang ladyboys. Tidak nampak ada raut laki-laki di wajahnya. Dengan dandanan seksi sedikit terbuka, dia dengan tersenyum memeluk saya dan temannya berdiri disamping saya dengan senyum dikulum.

Kami langsung ditemui pihak Manager Alcazar dan disuruh duduk sebentar di ruangan restoran serta diberi souvenir serta DVD kabaret. Setiap pemegang tiket pertunjukkan mendapatkan segelas minuman soda yang bisa dibawa ke dalam gedung. Sebelum penonton lain masuk, melalui pintu khusus kami dipersilahkan ke dalam ruangan dan memilih tempat duduk di VIP. Setelah posisi bagus didapat, pintu penonton dibuka dan dalam sekejab ruangan pertunjukan dan terdiri dari tingkat atas dan bawah pun penuh.

Walaupun sudah pernah menonton kabaret ini, namun saya tak bosan melihat aksi panggung para waria tersbut. Walaupun memang tidak semua pengisi panggung adalah waria, namun ada juga lelaki tulen. Set dekor panggung, permainan cahaya lampu serta pakaian yang dikenakan ditambah aksi panggung mereka, membuat tontonan ini sayang untuk dilewatkan begitu saja. Selama pertunjukan lebih kurang 50 menit, tidak ada penonton yang beranjak dari tempat duduk mereka. Malahan banyak yang ikut bernyanyi, seperti wisatawan Jepang bernyanyi dan berteouk tangan ketika sebuah scene panggung dan nyanyian berasal dari Jepang.

Latar panggung dari Indonesia pun ada yakni rumah Gadang dari Sumatera Barat saat aksi lagu Melayu diperdendangkan. Dan memang banyak tarian baru yang disajikan serta aksi sinar laser serta penari yang menggunakan sepatu roda khusus. Dan saat pertunjukan usai, para penari muncul di samping gedung untuk berfoto bersama penonton. Setiap penonton yang ingin mengabadikan momen bersama waria ini dikenakan biaya 100 baht atau sekitar Rp48 ribu.

Keesokan harinya, agenda lain sudah menanti. Kami check out dari hotel menuju Kota Bangkok. Perjalanan berjalan lancar dan makan siang mengambil tempat di restoran muslim dalam Mal MBK. Sebuah mal tertua yang ada di Kota Bangkok. Selain menjual pakaian dan aneka pernak pernik sebagaimana yang sering kita lihat di mal,disini juga dijual aneka aksesoris dan souvenir khas Thailand. Harganya pun hampir sama dengan harga aneka souvenir yang dijual di pasar tradisional.

Setelah puas berbelanja, tujuan selanjutnya adalah salah satu gedung tertinggi di Bangkok, King Power Mahanakhon. Ini adalah sebuah gedung bertingkat 78 dengan ketinggian 341 meter dari permukaan tanah. Disini dilantai 74 hingga 78, pengunjung bisa melihat Kota Bangkok dari segala sisi di ketinggian. Kami diterima oleh Public Relation Executive King Power Mahanakhon, Moke Promma. Dia menjelaskan secara detil tentang bangunan tersebut.

Untuk menaiki gedung tertinggi ini dikenakan biaya 880 baht atau sekitar Rp423 ribu bagi dewasa dan 250 baht (Rp120 ribu) anak-anak. Sebelum naik ke atas, kami selama 2 menit mencoba parachute virtual reality adventure. Ini adalah permainan dengan memakai helm dan kacamata virtual serta menaiki sebuah model parasut. Tubuh akan ditarik ke atas dan turun ke bawah seperti asli saat permainan dimulai. Untuk biaya karcisnya 250 baht (Rp120 ribu).

Lalu kami menaiki lift menuju lantai 74. Ini merupakan lift tercepat di dunia. Lantai 74 ditempuh dalam waktu 15 detik. Saat lift bergerak kita yang berada dalam lift akan disuguhi tontonan dari semua sisi dinding lift. Di lantai 74, kita bisa berkeliling melihat kota dari segala sisi. Disini tersedia teropong untuk melihat pemandangan serta ada kotak pos paling tinggi di dunia. Disamping kotak pos yang berwarna merah,  tersedia machine box yang menjual kartus pos. Dengan 40 baht atau Rp20 ribu kita mengirim kartu pos dengan berbagai alamat di dunia.

Puas di lantai 74 dilanjutkan ke lantai 78. Disini tersedia bar yang menjual aneka minuman. Juga ada glass tray atau lantai kaca. Hanya pengunjung yang punya nyali berani melewati lantai kaca dengan pemadangan jalan dan gedung-bertingkat tepat di bawah kaki kita. Ada yang berani namun ada yang berteriak-teriak ketakutan saat melewati lantai kaca ketika melihat kebawah. Para pengunjung yang ingin mencoba sky walk ini, harus menitipkan semua barang dan sepatu diberi pembungkus.

Dengan minuman berwarna biru, Riau Pos menaiki rofftop paling tinggi. Disini angin bertiup kencang dan pemandangan kota makin jelas karena langit langsung berada di atas kepala kita. Pagar pembatas hanya dinding kaca setinggi badan. Tersedia tempat duduk melingkar untuk bersantai menikmati minuman dan pemandangan indah semua sudut kota dengan sungai Chao Phraya yang meliuk-liuk membelah Kota Bangkok. Sebuah kengerian sekaligus tantangan dan keindahan yang menjadi satu.(bersambung)

 


Joss Coffee



Tentang Kopi

Bagaimana sebuah kopi berproses? Berawal dari sebuah tanaman bernama latin coffea, yang tumbuh subur di dataran tinggi dengan profil tanaman berbatang rendah. Di setiap dahan batangnya muncul berry atau buah kopi yang menempel. 

Buah kopi yang berbentuk berry berwarna merah tersebut kemudian dipanen dan dipisahkan dari bijinya. Biji ini dijemur dan ketika kering bernama green bean yang jadi cikal bakal kopi. Lalu biji mentah ini disortir, yang bagus dan sama bentuknya dikumpulkan. 

Hasil sortir biji yang bagus inilah yang diroasting atau dimasak dengan mesin khusus bersuhu dan bertekanan tinggi. Presisi roasting dengan jenis kualitas, light, medium dan dark, menghasilkan kopi yang harum dan nikmat. 

Kopi asli Indonesia, digemari warga dunia. Jadi, mari mulai hari ini minum kopi asli. Bukan kopi abal-abal campur bubuk jagung atau beras yang membuat perut mual. Minum Joss Coffee, rasakan nikmatnya kopi aseli....

Senin, 17 Februari 2020

Sensasi Jadi Chef


Dari Media Trip Amazing Thailand (1)

Sensasi Jadi Chef hingga Terpukau Balet  Atas Air
Berkunjung dan berwisata di Negeri Gajah Putih memang sangat menarik. Nampaknya tidak cukup hanya satu kali kita mengunjungi negeri yang sangat welcome dengan para turis ini. Ada apa saja hiburan wisata yang baru di Negeri Gajah Putih ini?

Laporan Yose Rizal, Pattaya

PEKAN kemarin, sayabersama 5 media lain dari Manado, Kalimantan Timur, Makassar, dan Sumatera Selatan, berkesempatan mengunjungi berbagai obyek wisata yang baru dibuka di Thailand, tepatnya di Kota Pattaya dan Bangkok. Kami mengambil titik kumpul di bandara Soekarno/Hatta dan kemudian bertolak ke Bangkok dengan Thai Airways. Rombongan media ini didampingi langsung oleh Direktur Tourism Authority of Thailand (TAT) Jakarta Mr. Sophon Tantayotai atau kami sapa dengan Kun So serta Public Relation TAT Stephanie Valencia. Perjalanan via udara dari Jakarta memakan waktu sekitar 3 jam. Setibanya di bandara Suvarnabhumi, Bangkok, rombongan sudah ditunggu Ms. Nutchaya (Bum). Ms Bun ini adalah tour guide selama kami di Thailand.

Sampai di Bangkok, perjalanan kembali dilanjutkan ke Kota Pattaya. Sebuah kota wisata yang sangat terkenal dengan keindahan pantainya. Dunia hiburan malam di kota ini sangat ramai dan hidup hingga jelang pagi hari. Namun bukan wisata ini yang akan kami kunjungi, melainkan wisata keluarga yang eksotik dan menarik. Perjalanan kami lakukan dengan menggunakan van yang melaju kencang di jalan tol Bangkok-Pattaya. Sempat singgah saat makan malam di rest area yang menyediakan berbagai macam makanan franchise terkenal di toko yang berjejeran di kiri kanan jalan dalam kawasan tersebut. Sampai di Pattaya hari sudah malam. Kota ini makin malam terlihat makin bersinar dengan kerlap kerlip lampu di berbagai bar dan tempat hiburan di setiap sudut jalan.

Rombongan dibawa menginap di Hotel Grande Center Point Pattaya. Sebuah hotel yang menyatu dengan Terminal 21 Shopping Mall. Tempat ini baru diresmikan 2 tahun yang lalu, jadi masih baru. Hotel Grande Center Point yang mempunyai 32 lantai ini, mempunyai pemandangan yang indah langsung menuju ke arah laut Pattaya. Di setiap kamar hotel ini disediakan balkon berikut meja kursi santai untuk menyaksikan pemandangan ke pantai Pattaya.

Keesokan harinya, rombongan wartawan, dibawa melihat komunitas nelayan kepiting biru atau Community Blue Crab Bank di perkampungan nelayan wilayah Bangsaray. Pihak TAT sengaja membawa rombongan wartawan ke tempat ini guna memperlihatkan bagaimana para nelayan secara aktif dan mandiri memberikan perlindungan dan kelangsungan hidup bagi kepiting yang merupakan sumber mata pencaharian mereka di laut. Dimana mereka membangun semacam bank atau tempat untuk menetaskan telur-telur kepiting yang kemudian setelah cukup usia, mereka lepaskan ke laut.

Menurut Vice Presiden  Blue Crab Bank, Sakda Wannasart, awalnya nelayan disana mengalami penurunan hasil tangkapan kepiting yang sangat drastis. Akhirnya mereka pun mendirikan tempat penetasan telur agar kepiting kembali berkembang biak. Setiap kepiting yang ditangkap dan sedang bertelur maka akan dikarantina disini. Satu bulan ada jutaan telur kepiting yang diproduksi dan berhasil ditetaskan yang kemudian dilepas ke laut untuk menjadi kepiting dewasa. Kebetulan saat itu sedang dilakukan pelepasan hasil telur kepiting yang telah menetas ke laut. Para wartawan juga dibawa melihat pelabuhan dengan puluhan kapal-kapal penangkap kepiting yang pagi itu sedang bersandar. Sama halnya dengan menangkap ikan, menangkap kepiting juga dilakukan malam hari.

Destinasi selanjutnya adalah kawasan taman terluas di Asia Tenggara, Nong Nooch Garden. Riau Pos sebelumnya sudah pernah mengunjungi taman ini pada tahun 2009 lalu. Namun kini, Nong Nooch banyak berubah. Sebuah lokasi baru bernama Garden in the Sky atau taman tergantung telah dibangun. Layaknya sebuah taman di udara, tanaman disini selain ditanam di atas tanah juga tumbuh di atas tanah. Pada lantai dua diatas rangkaian besi, dibuat jalan setapak dengan tanaman di kanan kiri. Tak hanya memakai media tanah, tanaman disini ditanam secara tergantung di udara. Dengan tali-tali sling, bermacam tananam berbentuk hati atau lambang love berwarna pink, tergantung apik. Juga tanaman berbentuk bola  memenuhi udara.

Nong Nooch Garden berada di Provinsi Chonburi, Pattaya dengan luas 3.000 hektare. Ini adalah salah satu obyek wisata yang wajib dikunjungi saat ke Thailand dimana setiap harinya lebih 5 ribu wisatawan datang ke tempat ini. Disini tersedia taman yang luas dengan berbagai tema dengan 670 spesies mulai tumbuhan bonsai, palem, tanaman tropis hingga bermacam bunga, pertunjukan budaya, restoran, gedung pertunjukan dan bermacam patung binatang seluruh dunia hingga binatang purba seperti dinosaurus. Di taman yang sudah dibuka sejak 30 tahun lalu ini, pengunjung harus membeli tiket masuk seharga 500 baht (Rp240 ribu dengan kurs Rp481 per Baht) dan untuk yang full dipungut  800 baht (Rp384 ribu). Buka mulai pukul 8 pagi sampai 6 sore. Pengunjung harus menggunakan kendaraan khusus untuk mengelilingi kawasan ini karena sangat luas.

Ketika matahari sudah berada di atas kepala dan waktunya makan siang, kami dibawa ke lokasi Nong Nooch 2 yang penuh tananaman buah-buahan beserta patungnya. Kemudian diarahkan masuk ke restoran dan diberi pakaian layaknya chef. Kami dibawa ke dapur untuk memasak makanan yang akan kami makan. Semua bahan memasak sudah tersedia beserta kompor gas. Ditemani seorang chef professional, kami pun diajarkan memasak Tomyam, sup khas Thailand. Tidak sampai 5 menit, Tomyam ala kami pun sudah selesai dimasak. Lalu berlanjut ke kompor lainnya. Disini kami memasak mi goreng Patthai. Sejenis mi kwetiaw karena mie nya terbuat dari sagu. Hasil masakan kami dibawa ke meja makan dimana juga sudah tersedia menu makanan lainnya. Kami pun dengan lahap memakan hasil masakan ala chef dadakan.

Di dinding restoran penuh dengan gambar yang sudah pernah masak disini, termasuk Miss Universe 2018 yang ternyata sudah menjajalnya. Menurut pihak Nong Noch bahwa paket cookingclas ini sudah masuk dalam paket wisata. Disini pengunjung bisa ikut cookingclas hingga 80 orang.

Usai makan siang, perjalanan dilanjutkan ke pusat Kota Pattaya tepatnya ke lokasi Art in Paradise. Ini adalah lokasi untuk berfoto 3 dimensi. Kebetulan pada saat itu sedang libur sekolah sehingga ramai dengan anak sekolah yang datang berkunjung. Disini sebelum masuk, kami diminta mendownload aplikasi artinparadise di playstore. Gunanya adalah pada saat menggunakan aplikasi ini, di beberapa lokasi foto, saat diarahkan kamera hape maka gambarnya akan bergerak dan hidup. Sangat menarik melihat foto kita menjadi hidup dan seperti dalam sebuah video. Terdapat berbagai tempat yang bagus untuk foto tiga dimensi ini. Disarankan jika ke tempat ini jangan sendirian, harus minimal berdua karena akan ada orang yang memfoto kita di setiap objek yang semuanya menarik.

Lanjut ke tempat wisata lainnya, Dolphinarium, show ikan lumba-lumba. Ini adalah tempat terbaru yang dibangun tahun 2019. Kami langsung disambut Director of Sales- International, Kritapath Na Takuatoong. Kami diberi tempat khusus melihat show tanpa harus basah kena air. Pertunjukan lumba-lumba ini dilakukan langsung oleh para trainer dari negeri Eropa Timur. Seorang perempuan dan dua laki-laki beraksi dengan apik hingga membuat decak kagum penonton.

Dengan tiket masuk 600 baht (Rp288 ribu) untuk dewasa dan 400 baht (Rp192 ribu) untuk anak-anak, selama 50 menit mata tidak berkedip melihat aksi-aksi menakjubkan para lumba-lumba dan trainer. Mulai dari aksi lumba-lumba jalan di darat, atraksi diatas pentas hingga atraksi air. Dengan melesat cepat lumba-lumba meloncat ke udara melewati lingkaran setinggi enam meter diatasnya. Bahkan lumba-lumba membawa trainer ikut meloncat ke dalam lingkaran tersebut. Yang sangat menarik adalah atraksi balet sang trainer perempuan yang tiba-tiba muncul dari dalam kolam dan meliuk-liuk diatas air serta berdiri di moncong lumba-lumba. Atraksi balet ini membuat decak kagum dan tepuk tangah meriah penonton.

Lumba-lumba juga pintar melukis dan secara bergiliran mereka memberi warna pada media kertas yang sudah dipersiapkan. Hasilnya jadilah gambar lukisan pantai di senja hari yang kemudian dilelang dan berhasil didapatkan teman wartawan dari Sumatera Selatan. Usai pertunjukan, kami diajak melihat ke belakang panggung dimana ada tempat yang disediakan untuk berenang dengan 2 lumba-lumba yang dipungut biaya 5.000 baht (Rp2.400.000). Pertunjukkan yang sangat menarik bagi turis terutama bagi anak-anak. (bersambung)


Rabu, 29 Juni 2016

nostalgia macet mudik 2012

Pondok Bika Talago Indah dan kemacetan jalan di depannya.

Bika panas yang lezat

Santai menunggu macet reda


Catatan akhir pekan 2012


Fenomena Mudik

PADA pertengahan pekan kemarin, saya lama terduduk di sebuah Lapau Bika Telago Biru daerah Koto Baru, Sumatera Barat. Ditemani bika panas yang baru selesai dibakar dengan menggunakan periuk tanah liat dan sekaleng minuman soda, pandangan saya lepaskan ke jalanan yang dipenuhi ratusan, mungkin ribuan kendaraan yang berjalan merambat. Di saat berbagai jenis merek kendaraan roda empat dan roda dua yang bergerak beringsut laksana siput tersebut, otak saya pun berpikir. Jam berapa macet ini akan berakhir?

Saya sengaja memarkirkan kendaraan dan mencoba istirahat sejenak di lapau bika ini, setelah hampir tiga jam terjebak macet. Waktu tiga jam tersebut saya hitung saat mulai memasuki Kota Bukittinggi menuju ke Kota Pariaman. Seharusnya, dalam kurun waktu tersebut saya sudah sampai ke tujuan dan bisa berleha-leha di pantai. Di luar rencana, macet yang melanda nampaknya begitu parah dari dua arah jalan. Sehingga saya pun hanya bisa pasrah sambil menikmati pemandangan jalanan yang ramai dengan kendaraan dengan nomor polisi dari provinsi tetangga Sumatera Barat, termasuk yang terbanyak dari Riau.

Apakah semua warga perantauan Minangkabau pulang ke tanah kelahiran nenek moyang mereka sehingga jalanan tidak mampu lagi menampung arus kendaraan? Dari percakapan saya dengan beberapa orang yang juga ikut memarkirkan kendaraan mereka menunggu macet reda, bahwa tidak semua kendaraan tersebut adalah pemudik. Banyak juga warga luar Provinsi Sumatera Barat yang memang sengaja datang untuk berwisata di Ranah Minang yang memiliki banyak objek wisata dengan kondisi alamnya yang eksotik. Seperti dirinya yang anak jati Riau, sengaja menginap di Bukittinggi dan akan menuju Padangpanjang guna menikmati waterboom bersama keluarga besarnya.

Lalu timbul pertanyaan di benak saya, mengapa sekarang ini semua orang berlomba-lomba memakai kendaraan pribadi? Sejauh yang saya lihat, bisa dihitung dengan jari kendaraan umum seperti bus yang lewat. Itu pun bus jenis menengah. Apakah memang usaha bus-bus sudah bangkrut “dihantam” kendaraan carter dan para travel? Sehingga jalanan saat ini seperti mau “muntah” dengan kendaraan pribadi.

Saya teringat dulu saat masih di bangku sekolah, belasan bus akan terlihat parkir berjejeran di setiap rumah makan jika kita pergi ke Sumatera Barat. Terminal pun ramai dengan lalu lalang dan hiruk pikuk penumpang. Namun kini kondisi Bandar Raya Payung Sekaki, terminal bus terbesar di Riau yang berada di Kota Bertuah, masih “adem-adem ayem”. Tak nampak penambahan penumpang berarti ke berbagai daerah tujuan pemudik, baik ke Sumatera Barat, Sumatera Utara ataupun tujuan Pulau Jawa. Bahkan tuslah atau kenaikan harga tiket yang merupakan panen para perusahaan bus setiap tahunnya, ditanggapi dingin-dingin saja. Mengapa moda transportasi umum seperti bus dan jenis angkutan massal tidak lagi diminati?

Dengan logika standar saja, pasti akan masuk akal jika para pemudik atau pengunjung tempat wisata di Sumatera Barat menggunakan angkutan bus, maka kemacetan akan bisa dihindari. Satu buah bus, akan bisa menampung penumpang 10 buah kendaraan pribadi. Atau jika kereta api diaktifkan lagi, maka beratus penumpang akan terlayani ke tempat tujuan. Macet seperti saat ini pun akan teratasi dan yang yang terpenting adalah, jumlah kecelakaan akan turun drastis. Karena kecelakaan jalan raya meningkat tajam di saat Idul Fitri ini. Berdasar catatan Posko Tingkat Nasional Angkutan Lebaran Terpadu 2012, jumlah kecelakaan lalu lintas yang terjadi mulai H-7 (12 Agustus 2012) hingga H+2 (22 Agustus 2012) mencapai 3.587 kasus.

"Kondisi lelah, capek dan macet bisa menyebabkan turunnya kewaspadaan pemudik. Hal ini yang barangkali memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas," ujar Ketua Posko Harian Posko Tingkat Nasional Angkutan Lebaran Terpadu 2012, Sugiadi Waluyo kemarin. 

Berdasar data yang masuk ke Posko Lebaran 2012, tercatat kecelakaan banyak terjadi pada H-3 (16 Agustus 2012) sebanyak 383 kasus dengan jumlah korban meninggal sebanyak 54 orang. Hari paling naas terjadi pada H-4 (15 Agustus 2012) karena menyebabkan 66 orang meninggal dunia. "Total terjadi 3.587 kasus kecelakaan dengan korban meninggal sebanyak 641 orang," ungkapnya.

Padahal kita tahu, dulu kereta api merupakan moda transportasi utama di daerah Sumatera Barat. Bahkan Jepang telah membangun jalur kereta api dari Muara Sijunjung hingga ke Pekanbaru. Beratus romusha meregang nyawa akibat pembangunan jalur kereta api yang sia-sia tersebut karena tidak pernah dipakai hingga sekarang. Mengapa pemerintah tidak pernah berpikir mengadakan dan memperbaiki transportasi umum yang massal. Seakan pemerintah melepaskan begitu saja masalah ini dan menyerahkan pengelolaannya kepada pihak swasta. Inilah misteri yang belum terpecahkan.***


bobointhecorner.blogspot.com

Selasa, 28 Juni 2016

Kota Sampah




Sebuah Nama

“What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet”. Yah, William Shakespeare seorang budayawan dan sastrawan Inggris pernah mengucapkan kata-kata tersebut,” Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi”. Tapi betulkah begitu?

Shakespeare dalam hal ini tidak salah. Dengan berbaik sangka kita menduga, mungkin dia tidak sedang mempersoalkan arti sebuah nama. Ia agaknya sedang mengajak pembacanya merenungkan esensi, keaslian, atau hakikat sebuah materi, apapun namanya. Namun jika esensinya ditarik kepada arti sebuah nama, ini akan jadi hal yang penting dan perlu.

Coba kita bayangkan jika tidak ada nama di dunia ini. Kita semua pun akan jadi bisu. Bagaimana kita akan menunjuk, meminta atau menyebutkan suatu benda? Dunia bisa kacau men.. hehehe. Nama adalah penunjuk. Nama adalah benda. Nama adalah branded. Nama adalah doa.

Dulu, saat akan mendapatkan anak pertama setelah penantian selama lima tahun, saya bingung dalam memberi nama. Buku-buku nama anak islami saya beli, searching di internet hingga meminta masukan dari dokter, ustad, orang tua, teman dan handai taulan saya lakukan. Namun, akhirnya saya pun menyerah dan mempersilahkan istri untuk memberikan nama yang cocok untuk anak pertama kami. Walau saya sering tidak mengakui saya menyerah, karena sebelumnya ada perjanjian di antara kami, jika anaknya laki-laki maka sang istri yang memberikan nama dan jika perempuan, adalah wewenang saya. Tapi, dibalik semua itu, saya memang akui saya tidak bisa mencarikan nama yang bagus.

Nama itu adalah unik, branded, mengandung sebuah arti, spesifikasi, pembeda dan akan jadi panggilan yang akan selalu dikenang. Ketika sebuah nama dicetuskan, ia akan terus tertanam dan tidak akan hilang dalam benak. Ia akan selalu hidup dalam hati orang-orang yang mencintainya. Dia akan menjadi sesuatu yang bermakna dan memberi harapan. 

Begitu jugalah halnya dengan nama yang melekat pada sebuah kota atau yang sering disebut julukan. Saat disebutkan nama Parijs van Java, secara otomatis otak kebanyakan orang akan memberikan identifikasi Kota Bandung. Koto Rang Agam, tentulah semua tahu itu adalah Kota Bukittinggi. Serambi Mekah, ya jelaslah Banda Aceh atau Pekanbaru, ya itu Kota Bertuah, Ups….

Pada suatu waktu saya punya teman dekat saat kuliah dulu. Kami tinggal satu kos di kawasan kampus Panam. Walaupun masih tinggal di Pekanbaru, namun sang teman lebih memilih tinggal di kos. Jadi setiap akhir pekan, dia pun pulang ke rumahnya di daerah Rumbai. Dia sering membawa saya menginap di rumahnya setiap akhir pekan tiba. Sebagai anak kos, tentu saya merasa senang. Karena selain bisa menghilangkan suntuk juga dalam hal menghemat biaya hidup di rantau. Yah, itung-itung perbaikan gizi lah. Hehe. 

Si teman saat di rumah, dipanggil berbeda. Nama yang lain dan bukan bagian dari nama yang diberikan orang tua. Saya pun heran saat dia dipanggil dengan nama yang lain. Aneh juga menurut saya, orang tuanya sudah memberikan nama yang bagus, tapi tidak pernah menjadi panggilannya di rumah. Ada apa ya?

Semula dia tidak mau memberi tahu saat saya tanya dan menganggap hal itu tidaklah begitu penting. Namun bagi saya, hal tersebut menimbulkan rasa penasaran. Saya tidak ingat siapa yang menjelaskan hal ini, namun saya berhasil mendapat jawabannya. Ternyata kawan tadi saat kecil sering sakit-sakitan. Orang tuanya pun agaknya sudah lelah membawanya berobat ke sana-kemari. Akhirnya, orang tuanya curhatlah dengan pimpinan di tempat kerjanya. Oleh si pimpinan disarankan agar anaknya itu namanya diganti dan langsung diberikan nama yang bagus bin keren agar si anak bisa sembuh. 

Ajaib, setelah berganti nama, si anak langsung sembuh. Dan hampir tidak pernah sakit lagi. Yah, boleh percaya atau tidak,  begitulah keajaiban sebuah nama. Dia laksana sebuah doa. Dimana pada intinya, doa menurut HR Hakim, bermanfaat mengubah apa ketentuan yang telah turun dan apa yang belum turun. Karena itu, sering-seringlah berdoa, ya teman-teman… hehe

Dan dunia ini memang penuh misteri dan kejutan tak terduga. Siapa yang menyangka, teman kuliah saya tadi yang diganti namanya agar bisa sehat dan kuat, ternyata yang memberi namanya adalah almarhum mertua saya. Bagaimana bisa ya. Itulah rahasia tuhan, mertua saya dulu adalah pimpinan di kantor orang tua sang teman kuliah tadi. Saya pun tahunya hal itu setelah saya menikah dan lama tak berjumpa si teman kuliah tadi.

Apapun itu, untuk masa sekarang ini, Shakespeare mungkin akan terkejut. Dia akan geleng-geleng kepala menyaksikan banyaknya nama yang diplesetkan. Nama yang dipersonifikasikan dengan sesuatu atau dipoles habis-habisan untuk bercitra sesuai dengan kemauan pemilik nama.  Sehingga banyak yang tertipu dan akhirnya menyesal.***

Rabu, 23 Desember 2015

Hai hai jumpa lagi

Akhirnya, kita berjumpa lagi pemirsah setelah empat tahun vakum. Ok terus pantau postingan2 teranyar dari jenggot...