Senin, 17 Februari 2020
Sensasi Jadi Chef
Rabu, 29 Juni 2016
nostalgia macet mudik 2012
"Kondisi lelah, capek dan macet bisa menyebabkan turunnya kewaspadaan pemudik. Hal ini yang barangkali memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas," ujar Ketua Posko Harian Posko Tingkat Nasional Angkutan Lebaran Terpadu 2012, Sugiadi Waluyo kemarin.
Berdasar data yang masuk ke Posko Lebaran 2012, tercatat kecelakaan banyak terjadi pada H-3 (16 Agustus 2012) sebanyak 383 kasus dengan jumlah korban meninggal sebanyak 54 orang. Hari paling naas terjadi pada H-4 (15 Agustus 2012) karena menyebabkan 66 orang meninggal dunia. "Total terjadi 3.587 kasus kecelakaan dengan korban meninggal sebanyak 641 orang," ungkapnya.
Selasa, 28 Juni 2016
Kota Sampah
Sebuah Nama
“What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet”. Yah, William Shakespeare seorang budayawan dan sastrawan Inggris pernah mengucapkan kata-kata tersebut,” Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi”. Tapi betulkah begitu?
Shakespeare dalam hal ini tidak salah. Dengan berbaik sangka kita menduga, mungkin dia tidak sedang mempersoalkan arti sebuah nama. Ia agaknya sedang mengajak pembacanya merenungkan esensi, keaslian, atau hakikat sebuah materi, apapun namanya. Namun jika esensinya ditarik kepada arti sebuah nama, ini akan jadi hal yang penting dan perlu.
Coba kita bayangkan jika tidak ada nama di dunia ini. Kita semua pun akan jadi bisu. Bagaimana kita akan menunjuk, meminta atau menyebutkan suatu benda? Dunia bisa kacau men.. hehehe. Nama adalah penunjuk. Nama adalah benda. Nama adalah branded. Nama adalah doa.
Dulu, saat akan mendapatkan anak pertama setelah penantian selama lima tahun, saya bingung dalam memberi nama. Buku-buku nama anak islami saya beli, searching di internet hingga meminta masukan dari dokter, ustad, orang tua, teman dan handai taulan saya lakukan. Namun, akhirnya saya pun menyerah dan mempersilahkan istri untuk memberikan nama yang cocok untuk anak pertama kami. Walau saya sering tidak mengakui saya menyerah, karena sebelumnya ada perjanjian di antara kami, jika anaknya laki-laki maka sang istri yang memberikan nama dan jika perempuan, adalah wewenang saya. Tapi, dibalik semua itu, saya memang akui saya tidak bisa mencarikan nama yang bagus.
Nama itu adalah unik, branded, mengandung sebuah arti, spesifikasi, pembeda dan akan jadi panggilan yang akan selalu dikenang. Ketika sebuah nama dicetuskan, ia akan terus tertanam dan tidak akan hilang dalam benak. Ia akan selalu hidup dalam hati orang-orang yang mencintainya. Dia akan menjadi sesuatu yang bermakna dan memberi harapan.
Begitu jugalah halnya dengan nama yang melekat pada sebuah kota atau yang sering disebut julukan. Saat disebutkan nama Parijs van Java, secara otomatis otak kebanyakan orang akan memberikan identifikasi Kota Bandung. Koto Rang Agam, tentulah semua tahu itu adalah Kota Bukittinggi. Serambi Mekah, ya jelaslah Banda Aceh atau Pekanbaru, ya itu Kota Bertuah, Ups….
Pada suatu waktu saya punya teman dekat saat kuliah dulu. Kami tinggal satu kos di kawasan kampus Panam. Walaupun masih tinggal di Pekanbaru, namun sang teman lebih memilih tinggal di kos. Jadi setiap akhir pekan, dia pun pulang ke rumahnya di daerah Rumbai. Dia sering membawa saya menginap di rumahnya setiap akhir pekan tiba. Sebagai anak kos, tentu saya merasa senang. Karena selain bisa menghilangkan suntuk juga dalam hal menghemat biaya hidup di rantau. Yah, itung-itung perbaikan gizi lah. Hehe.
Si teman saat di rumah, dipanggil berbeda. Nama yang lain dan bukan bagian dari nama yang diberikan orang tua. Saya pun heran saat dia dipanggil dengan nama yang lain. Aneh juga menurut saya, orang tuanya sudah memberikan nama yang bagus, tapi tidak pernah menjadi panggilannya di rumah. Ada apa ya?
Semula dia tidak mau memberi tahu saat saya tanya dan menganggap hal itu tidaklah begitu penting. Namun bagi saya, hal tersebut menimbulkan rasa penasaran. Saya tidak ingat siapa yang menjelaskan hal ini, namun saya berhasil mendapat jawabannya. Ternyata kawan tadi saat kecil sering sakit-sakitan. Orang tuanya pun agaknya sudah lelah membawanya berobat ke sana-kemari. Akhirnya, orang tuanya curhatlah dengan pimpinan di tempat kerjanya. Oleh si pimpinan disarankan agar anaknya itu namanya diganti dan langsung diberikan nama yang bagus bin keren agar si anak bisa sembuh.
Ajaib, setelah berganti nama, si anak langsung sembuh. Dan hampir tidak pernah sakit lagi. Yah, boleh percaya atau tidak, begitulah keajaiban sebuah nama. Dia laksana sebuah doa. Dimana pada intinya, doa menurut HR Hakim, bermanfaat mengubah apa ketentuan yang telah turun dan apa yang belum turun. Karena itu, sering-seringlah berdoa, ya teman-teman… hehe
Dan dunia ini memang penuh misteri dan kejutan tak terduga. Siapa yang menyangka, teman kuliah saya tadi yang diganti namanya agar bisa sehat dan kuat, ternyata yang memberi namanya adalah almarhum mertua saya. Bagaimana bisa ya. Itulah rahasia tuhan, mertua saya dulu adalah pimpinan di kantor orang tua sang teman kuliah tadi. Saya pun tahunya hal itu setelah saya menikah dan lama tak berjumpa si teman kuliah tadi.
Apapun itu, untuk masa sekarang ini, Shakespeare mungkin akan terkejut. Dia akan geleng-geleng kepala menyaksikan banyaknya nama yang diplesetkan. Nama yang dipersonifikasikan dengan sesuatu atau dipoles habis-habisan untuk bercitra sesuai dengan kemauan pemilik nama. Sehingga banyak yang tertipu dan akhirnya menyesal.***
Rabu, 23 Desember 2015
Hai hai jumpa lagi
Akhirnya, kita berjumpa lagi pemirsah setelah empat tahun vakum. Ok terus pantau postingan2 teranyar dari jenggot...
Senin, 17 Oktober 2011
tugu pesawat yang hilang









Pekanbaru Kehilangan Jati Diri
SEBAGAI Ibu Kota Provinsi, nasib Kota Pekanbaru kini mulai menyedihkan. Setelah beberapa pekan belakangan Kota Bertuah yang semula tenang dan damai, rusuh dengan aksi demonstrasi akibat Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pemilukada yang gagal dilakukan KPUD Pekanbaru, kini bakal ada lagi hal baru yang datang mengusik. Landmark Kota Bertuah yang berlokasi di tengah
Tugu Pesawat Tempur berdasarkan penandatangan di prasasti, dilakukan oleh Gubernur Imam Munandar pada tahun 1981. Konon pesawat tempur yang diletakkan ditengah
Para tokoh terdahulu agaknya ingin menunjukkan kepada anak cucu mereka bahwa Kota Pekanbaru punya andil tersendiri dalam perjalanan sejarah di negara
Keinginan pemerintah untuk meng-almarhumkan tugu pesawat tempur sebenarnya sudah mulai dilakukan beberapa tahun lalu. Kala itu rencananya tugu tersebut akan diganti dengan tugu perahu Lancang Kuning. Namun karena derasnya penolakkan akhirnya rencana tersebut batal dengan sendirinya. Kini ditengah hiruk pikuk morat-maritnya pelaksanaan Pemilukada Kota Pekanbaru, Tugu tersebut pun sudah dipagari seng dan bakal segera diganti.
Tidak ada yang tidak senang dengan dibangunnya tugu di Kota Pekanbaru seperti Tugu Zapin. Namun yang disayangkan, pembangunan tugu baru hendaknya jangan sampai menghancurkan tugu yang lama. Bangunlah di tempat yang baru, karena wilayah Pekanbaru luas sekali. Menghancurkan tugu atau bangunan lama, berarti menghilangkan satu lagi saksi sejarah. Ingat kata-kata Soekarno: "jangan sekali-kali meninggalkan sejarah".
masih tentang minyak


Apakah Kita Sudah Siap?
SAAT masih kecil dulu ketika duduk di bangku sekolah dasar, pernah suatu kali terfikir, apa yang akan terjadi di dunia ini jika minyak bumi sudah habis? Terbayang, semua kendaraaan bermotor akan menjadi besi tua dan teronggok begitu saja. Mesin-mesin tidak akan bisa bekerja dan orang-orang akan menganggur. Tidak ada lagi listrik dan hidup akan menjadi gelap gulita di saat malam. Tidak bisa menonton televisi dan memutar musik kesukaan di tape.
Dan saya tak akan bisa lagi melihat mobil tangki menyerakkan minyak untuk aspal ke jalan tanah di kotaku yang kaya raya dengan emas hitam.
Ketika penduduk belum padat, kami sering saat malam menyaksikan lampu berpencaran dan berkedap-kedip di daerah operasi minyak Caltex yang kini dinamakan ladang minyak injeksi Duri atau Duri Steamflood Field. Ladang minyak injeksi uap yang terbesar di dunia. Karena rumah kami berada di ketinggian dekat ladang minyak tersebut, jadi kalau malam kami mendpat suguhan pemandangan yang menarik, layaknya melihat sinar lampu Singapura dari Kota Batam. Siang hari, sering tercium bau seperti kentut yang menurut warga sekitar berarti ada gas yang bocor. Tak jarang kami pun berjalan kaki ke
Saat sudah dewasa, saya pun mengerti bahwa minyak bumi bukanlah satu-satunya energi penggerak di dunia ini. Jadi kalaupun minyak bumi habis, maka akan ada gas bumi, minyak nabati, tenaga surya, tenaga air, tenaga angin hingga nuklir. Kendaraan bermotor pun masih bisa berseliweran di jalan raya. Mesin pabrik masih dapat beroperasi dan menghasilkan barang. Listrik pun bahkan bisa lebih murah membayarnya jika dihidupkan dengan tenaga nuklir.
Satu pertanyaan saya sudah terjawab ketika tahu bahwa ada energi alternatif yang ternyata bisa menggantikan minyak bumi. Namun satu lagi pertanyaan yang hingga kini masih menghinggapi adalah, bagaimana dengan pekerjaan orang tua, keluarga besar kami dan teman-teman saya yang semua bekerja di bidang penyedotan minyak bumi ini. Saya tak bisa membayangkan
Berbicara kekinian, ketika minyak bumi berangsur-angsur habis, apakah pemerintah kita sudah siap dengan energi alternatif? Empat tahun yang lalu, saya pernah diajak field trip ke wilayah kerja dan melihat-lihat operasi kerja di BOB BSP yang merupakan mantan CPP Blok-nya Caltex. Saat saya bertanya kepada top manager disana kapan minyak di blok ini akan habis, ia pun memprediksi tahun 2020 minyak ditempatnya akan kering. Dengan catatan tidak ada lagi eksplorasi dan penerapan teknologi terbaru. Karena menurutnya, minyak bumi adalah energi yang tidak bisa diperbaharukan dan suatu saat nanti akan segera habis.
Sudah siapkah pemerintah dan kita sendiri menghadapi hal tersebut? Saat ini pun krisis energi sudah menimpa negara kita. Penghapusan subsidi minyak tanah dan mengalihkannya ke gas, merupakan bukti bahwa produk minyak bumi di
Sudah siapkan kita di negeri Lancang Kuning ini. Negeri yang diatas dan dibawah kaya dengan minyak. Apa yang telah pemerintah daerah lakukan untuk menerapkan energi alternatif. Apakah pemerintah sudah mulai melakukan penerapan energi ini? Atau masyarakat sudah mulai beralih ke energi alternatif di kehidupan sehari-hari? Kenyataannya, kita terlihat lebih senang dan candu dengan kehidupan carut marut politik dibanding memikirkan masalah menyangkut dunia teknologi terutama masalah energi alternatif.***
Sakai

Suku Terasing Itu
SAAT bocah dulu, di sebuah
Sempat saya bertanya kepada orang tua tentang siapa pria tegap tanpa baju tersebut dan apa yang dibawanya. ''Jangan mengganggu atau meludah sembarangan kalau orang itu lewat ya. Itu orang dari hutan, orang
Kami pun mendengar cerita-cerita menyeramkan tentang kesaktian ilmu magic orang-orang hutan tersebut. Makanya tidak ada yang berani mengganggu orang tersebut, dan kami para bocah-bocah agak ketakutan jika melihat pria tersebut berjalan di depan rumah. Kami lari bersembunyi dan hanya mengintip saat dia melintas.
Suatu waktu, ketika bapak saya pulang dari mandah (pulang ke rumah setelah beberapa hari bekerja mengebor minyak di tengah hutan belantara), sering membawa ikan besar dan buah-buahan. Katanya itu pemberian dari orang
Ketika duduk di bangku SMA, saya berteman dengan salah seorang anak suku
Karena si teman sering menggunakan fasilitas perusahaan migas tersebut, ia yang memberi tahu saya rute angkutan yang harus dinaiki saat kami kuliah di Pekanbaru. Saya yang jarang menggunakan bus perusahaan, sering bareng bersamanya pergi kuliah menggunakan bus tersebut ke Kota Bertuah. Dialah yang memberi petunjuk angkot mana yang harus saya naiki untuk mencapai tempat kos. Walaupun ia tidak kuliah di universitas negeri, namun ia tetap semangat kuliah di Pekanbaru. Ia terus melanjutkan kuliahnya hingga sarjana dan sempat duduk di kursi legislatif. Teman saya itu kini sudah almarhum.
Seiring bergulirnya era reformasi, ketika sedang aktif-aktifnya di kegiatan luar kampus, saya kembali mendengar nama
Di suatu saat lagi, saya pernah diajak berkeliling menaiki helikopter sebuah perusahaan kayu untuk melihat wilayah HTI mereka yang tidak bisa digarap karena bentrok dengan warga tempatan. Dari atas udara saya memandang miris, rumah-rumah kayu yang disekilingnya pohon-pohon mulai menipis.
Di kala lain, ketika pulang ke
Semoga..




