Jumat, 22 April 2011

dreaming of me




PADA siang kemarin, usai pengambilan foto anakku untuk sebuah pass foto, sang pemilik studio foto pun bertanya, ''untuk apa pas foto anaknya ini,'' ujarnya sambil memegang-megang kepala anakku, Rakha, yang mulai mengambil ancang-ancang untuk berlari keluar.

''Untuk persyaratan masuk sekolah bang,'' jawabku sambil berlari mengejar Rakha mulai nampak lasaknya.

''Wah, anak sekecil ini sudah dimasukkan ke sekolah. Berapa umurnya? Apa tidak salah tuh. Mana mengerti anak kecil ini sekolah. Yang dia butuhkan adalah bermain,'' ujarnya bertubi-tubi menanggapi jawabanku yang dinilainya terlalu mengada-ada.

''Ya, itulah dia. Umurnya tiga tahun dua bulan bang. Saya berencana masukkan dia ke Playgroup Darma Yudha biar ada kawan bermain dan mengajarkan dia bersosialisasi. Disamping belajar dan memperkenalkan sejak dini bahasa inggris karena sekolahnya itu adalah sekolah intenasional dengan basic bahasa inggris,'' ujarku memberi sedikit keterangan.

''Memangnya di rumah tidak bersosialisasi dengan anak-anak tetangga. Apa ibunya tega anaknya dimasukkan ke sekolah,'' cecarnya lagi.

''Dia anak tunggal bang. Tidak ada abang dan adik. Di rumah kami, dia jarang ke luar rumah dan bermain-main dengan anak tetangga yang kebanyakan sudah besar-besar. Istri saya bekerja. Jadi selama ini di rumah ia hanya bermain sendiri ditemani neneknya. Mungkin teman setianya adalah televisi. Makanya sekarang ia agak pasif dalam berkomunikasi. Dengan bersekolah, tentu ia akan mendapat banyak teman,'' jelasku lagi.

''Itu bapaknya yang salah,'' jawab si pemilik studio foto lagi.

''Lho kok gitu,'' tanya saya.

''Iya lah. masak buat anak cuma satu. Buatkankanlah dia adik, jadi tidak sendiri di rumah,'' ujarnya setengah mengejek.

''Kalo bicara mendapatkan anak, itu kita bicara soal rezeki dari tuhan bang. Alhamdulillah, kami sudah diberi anak. Banyak pasangan lain, sudah puluhan tahun berumah tangga, belum juga diberi anak bang,'' ujarku sambil membayar biaya pas foto dan mengucapkan terima kasih kemudia berlalu meninggal si abang, yang nampaknya masih belum puas dan masih ingin melanjutkan percakapan.

Di dalam mobil, dengan ditemani oleh seorang teman dari Dumai yang baru sampai di Pekanbaru, saya pun memberikan sedikit penjelasan menyangkut dialog saya dengan sang pemilik studio foto yang juga di dengarnya. Teman saya ini pun nampaknya juga tidak setuju dengan usia anak saya yang masih tiga tahun dan akan dimasukkan ke sekolah.

''Begini bro. Selain agar anakku dapat bersosialisasi dengan teman seumurannya di sekolah nanti, aku sebenarnya punya cita-cita. Menurutku, cita-cita ini memang agak terlalu tinggi jika dilihat dari penghasilan kami bekerja,'' tuturku.

''Cita-cita apa itu,'' sang teman pun nampaknya penasaran.

''Aku ingin nanti anakku ini dapat bersekolah di luar,'' jelasku.

''Diluar daerah? Di Bandung atau Jogjakarta,'' tanyanya penuh selidik.

''Bukan. Tapi di luar negeri, seperti di Jerman, Inggris atau kalau yang paling dekat di Australia,'' jawabku.

''Wah, wah...,'' katanya setengah takjub

''Itu kan cita-cita. Bolehkan kita bercita-cita. Makanya untuk mewujudkan cita-cita itu maka anakku ini dimasukkan ke sekolah internasional yang bisa matching nantinya jika ia ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri. Mumpung juga maminya khan jadi guru di sekolah internasional tersebut. Kalo dana kami terbatas, saya akan berusaha mencari beasiswa nantinya. Pokoknya berusaha dulu dan kemudian baru diiringi dengan doa,'' jelasku sambil melirik Rakha yang duduk di bangku belakang.

''Amiin.....,'' jawab sang teman.


Selasa, 01 Maret 2011

lagi-lagi musik

Rata Penuh
Musik memang tidak pernah matinya meracuni jiwa ini. Walaupun telah absen dalam rentangan belasan tahun, namun hasrat untuk bermain musik tetap selalu hadir. Gayung pun bersambut ketika ada permintaan dari rekan sesama profesi kerja agar kembali menekuni dunia yang telah lama terlupakan dan terkubur tersebut. Pertama-tama, sempat bimbang juga karena jari-jari tangan sudah tidak terlatih lagi. Tidak pernah memegang gitas bass, akan terasa kaget saat merasakan kembali senar-senarnya yang kasar dan siap melumatkan kulit jari tangan yang halus lembut karena setiap hari hanya disentuh keyboard komputer.


Namun segalanya harus dicoba. Dan akhirnya latihan setiap sabtu malam pun rutin dilakukan hingga dini hari menjelang. Memang kulit jari sedikit lecet. Itu tidak apa-apa dibanding kenikmatan yang didapat dari kepuasan batin ini. Jiwa pun serasa muda kembali. Walau umur telah merambah kepala tiga, tapi ketika bermain musik akan terasa seperti anak muda yang duduk di semester pertama bangku kuliah. Beruntung mendapatkan teman-teman yang satu hobi walau pekerjaan di bidang jurnalis sering menyita waktu. Dan teman-teman dari latar belakang media yang berbeda ini, sangat berbakat dan ahli dalam memainkan alat. Baru disebut judul lagu, sudah bisa mengulik-ulik dan langsung memainkannya. Hebat. Semua serba instan dan yang penting happy.


Masih tersimpan dalam memori otak ini, saat pertama kali tampil di depan khalayak ramai di tahun 1996. Ketika itu sebuah festival musik digelar di Balai Arena Dang Merdu (sekarang telah hancur porak-poranda oleh proyek menara bank riau). Yang saya takutkan saat akan tampil adalah kegelapan cahaya. Kok bisa? Iya, saya takut tidak mencapatkan cahaya lampu karena lampu memang sengaja dimatikan saat band tampil di hadapan penonton. Saya takut tidak bisa melihat gitar bass yang saya mainkan. Hingga bisa jadi saya tidak bisa menekan senar di kunci-kunci yang tepat. Hanya itu yang saya takutkan, bukan grogi terhadap penonton sebagaimana banyak dialami para pemula.


Namun ternyata, yang saya takutkan itu sama sekali tidak terjadi dan jauh seperti yang terbayangkan. Saat band kami, Bobo, dipanggil naik ke atas pentas, ruangan masih dipenuhi cahaya lampu. Saat sudah memegang alat masing-masing, lampu kemudian padam. Para penonton pun hilang dari pandangan dan berubah gelap. Namun kami di panggung terang benderang disorot lampu yang bahkan menyilaukan mata. Saya pun bersyukur dalam hati, bayangan buruk itu ternyata hanya ketakutan belaka.


Akibat asyik bermain band, berbagai ajakan teman untuk berkaraoke saya tolak. Sebelumnya, karaoke adalah ajang untuk berlatih vokal dan menyalurkan hasrat akan musik. Walaupun banyak rekan-rekan yang merasa bak penyanyi profesional dengan suara fals di ruang karaoke, agak menganggu pendengaran, tapi tak pernah saya kritik. Beda kalau bermain band, siapa yang sumbang harus ditegur dan harmoni harus disamakan. Karena band adalah satu kesatuan irama yang dipadukan antara instrumen gitar, drum, bass dan vokal. Satu saja yang salah, maka suara yang keluar akan sumbang. Disinilah diperlukan insting dan perasaan mulai bermain. Dan saya suka itu....

hallo

wah, sudah lama tak nge-blog nih...
udah lupa cara postingnya...
2 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menghilang
selamat datang didunia maya

Minggu, 02 Agustus 2009

kisah duri (3)

Rakha bermain di jalanan depan rumah Oma



api yang membakar gas liar




wajah kota Duri




Lapangan Pokok Jengkol jadi lokasi Salat Id

Duri Meledak
Keheningan malam yang cerah dengan sinar bulan dan taburan bintang, tiba-tiba berubah mengerikan. Duarrr, suara laksana letusan bom atom membuat seisi kota yang sedang nyenyak terlelap, seakan terlempar dari tempat tidur.

DEGUP jantung saya berdetak keras ketika terjaga dan merasa terlontar dari atas tempat tidur. Pintu kamar yang sebelum tidur saya kunci, tiba-tiba sudah terbuka lebar. Suara laksana petir tunggal itu, membuat keringat deras mengucur di kening. Suara-suara gaduh pun terdengar dari dalam dan luar rumah.

“Bom, mungkin ada bom jatuh,’’ ungkap beberapa orang, ketika saya dan Bapak keluar rumah guna mencari tahu apa yang terjadi.

Di tengah malam buta sekitar pukul 2 dini hari itu, Kota Duri seolah beriak dan bangkit dari tidur panjangnya. Jalanan dipenuhi oleh orang yang lalu-lalang dan kendaraan hilir mudik. Semua bertanya-tanya, ada apa gerangan. Pekikan tangis dan jerit warga pun terdengar. Beberapa rumah, temboknya terlihat runtuh, atap dan kunsen jatuh. Suasana dalam rumah pun berantakan dengan barang-barang yang berjatuhan. Bahkan tetangga ada yang tidak bisa lagi menimba air sumur karena dindingnya telah bergeser.

Beberapa rumah lainnya, terlihat sudah tidak nampak lagi atapnya karena telah terbang entah kemana. Beberapa kobaran api terlihat dari kejauhan. Mungkin sempat terjadi kebakaran, namun tak bisa saya datangi karena suasana sudah heboh. Dari kejauhan, saya melihat angkasa atas di kawasan Pokok Jengkol telah memerah oleh api. Agaknya hutan kecil dan ilalang disana telah terbakar. Semua mata tertuju ke arah Pokok Jengkol karena di sanalah sumber ledakan itu terdengar.

Malam itu, sekitar tahun 1991. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas dua SMP. Saya ingat betul kejadian itu, karena kami akan memasuki liburan panjang sekolah dimana akan melakukan studi tur ke Danau Toba, Medan. Semua murid di kelas saya ikut acara itu dengan menaiki satu bus khusus. Beda dengan kelas lain yang bercampur-campur di satu kendaraan.

Malam kejadian itu, bermacam praduga bermunculan terhadap apa yang terjadi. Suara menggelar bak bom atom dan menimbulkan kerusakan parah di hampir merata kota, membuat banyak orang ketakutan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa rudal scud Irak telah sampai ke kota kami. Maklum, ketika itu sedang panas-panas perang Teluk I antara Irak melawan Amerika dan sekutunya. Karena daerah Duri merupakan ladang minyak yang dioperasikan Caltex yang notabene milik perusahaan Amerika, maka bom pun diarahkan ke sini.

Saya yang masih terhitung anak-anak tanggung kala itu, dilarang orang tua untuk pergi jauh-jauh. Kami pun hanya dibolehkan berada di sekitar rumah. Bahkan tak boleh masuk rumah lagi, dan duduk-duduk saja di perkarangan bersama tetangga-tetangga lainnya. Hal ini karena takut ada letusan lagi yang bisa membuat rumah ambruk. Dengan membawa selimut dan bantal, kamipun tidur-tiduran di teras dan pekarangan. Sementara orang dewasa melihat kerusakan-kerusakan yang dialami warga. Beruntung rumah kami yang dari batu tak mengalami kerusakan berarti, Cuma retak-retak di sekitar kunsen dekat pintu. Beda dengan rumah tetangga banyak semi permanen, kerusakannya lebih parah lagi.

Pagi, walaupun terlambat, saya tetap pergi ke sekolah. Karena sekolah saya jauh dari rumah dan harus naik angkot, saya bisa menyaksikan kerusakan yang terjadi di jalanan. Beruntung malam itu, letusan keras terjadi hanya sekali, hingga tidak ada kejadian buruk. Saya malam itu tidak mendengar ada yang tewas. Namun yang luka-luka ada. Hal ini terjadi karena tertimpa kunsen, perabotan rumah tangga dan lainnya.

Sesampainya di sekolah, ternyata hampir semua kawan-kawan terlambat datang. Sepanjang hari itu, kami tidak belajar secara penuh. Semua sibuk bercerita tentang kejadian di malam naas itu. Akhirnya kami pun mendapat keterangan terhadap kejadian malam itu. Gudang Penyimpanan Dinamit Meledak!!

Sebuah gudang yang menyimpan dinamit yang digunakan untuk keperluan eksplorasi pencarian minyak yang berada di kawasan Sembat (danau buatan) dekat Pokok Jengkol telah meledak. Beberapa orang dikabarkan jadi tuli dan terluka akibat peristiwa itu. Kerusakan terparah terjadi di rumah warga yang berada di persimpangan Jalan Sudirman dengan Jalan Hang Tuah tersebut. Gudang yang berada di bawah tanah itu, belum diketahui apa penyebabbnya hingga meledak.

Hingga kini pun saya masih kabur dengan peristiwa yang terjadi tersebut. Maklum kala itu belum ada surat kabar yang memberitakan kota kami. Televisi pun hanya ada siaran TV Malaysia dan TVRI yang kadang kabur. Hingga berita yang sampai hanya dari mulut ke mulut dan bahkan sering dramatis. Namun setelah itu, kawasan Sembat, yang dulu menjadi tempat kami berenang (kalau ketahuan orang tua, akan kena hukum habis-habisan) dijaga ketat dan dilarang masuk.

Namun yang pasti, saya merasakan bagaimana dahsyatnya sebuah letusan buatan manusia. Hanya gudang dinamit yang meledak, bagaimana kalau yang meledak itu bom, mortir dan peluru kendali sebagaimana dirasakan penduduk Irak dan Afghanistan saban hari. Saya tak bisa membayangkan jika hidup di daerah perang.

Bersyukurlah kita.***

Kamis, 16 Juli 2009

catatan akhir pekan



Menunggu Gebrakan Sang Idrus


Dahulu, ketika baru bekerja walaupun belum diwisuda, di sebelah kamar kos saya tinggal seorang PNS yang baru diterima di sebuah departemen perwakilan pusat di Kota Bertuah ini. Sang pemuda ini berasal dari Medan dengan logatnya yang khas. Ia mengaku lulus ujian dari ribuan peserta yang memperebutkan posisi strategis di sebuah departemen yang selalu berhubungan dengan uang.


Semula ia bingung, dan mencoba beradaptasi dengan Kota Ber­tuah yang menurutnya miskin dengan hiburan. Maklum sang kawan ini sebelumnya menempuh jenjang pendidikan di Kota Kembang yang terkenal dengan julukan paris van java. Jadi ia merasa Kota Bertuah ini terasa kecil geliatnya dan miskin dengan hiburan.

Setelah beberapa bulan, saya lihat kawan ini agak bergairah. Saat pulang dari kantor di malam hari, saya mulai jarang mene­muinya di tempat kos. Saya pikir, ia mungkin sudah mendapatkan pacar, jadi agak sering keluar malam. Namun saat pulang di malam hari, malah ia membawa teman cowok sekantor. Maka dugaan saya ia pergi ke rumah pacar pun sirna.

Iseng-iseng, saya pun bertanya kemana saja mereka pergi di malam hari karena jarang saya temui pintu kamarnya terbuka saat saya pulang ke rumah. ''Kami serasa berada di tempat antah beran­tah. Seperti menonton keajaiban zaman dahulu,'' kata sang teman.

Saya pun agak bingung apa maksud perkataannya. ''Maksudnya apa nih,'' tanya saya sambil mencoba mengorek keterangan lebih dalam saat kami duduk berdua di beranda lantai atas paviliun kos kami.

Sambil memetik-metik dawai gitar, ia pun bercerita bahwa mereka kini mulai gandrung dengan pertunjukan bernuansa budaya Melayu yang sering digelar di Teater Arena Balai Dang Merdu. Semula, ia dan temannya tak sengaja berkunjung ke lokasi terse­but. Saat memasuki gedung itu, mereka pun seperti tersihir meli­hat ada pertunjukkan yang sangat menarik hati tersebut.

''Kami seperti berada di opera zaman-zaman dahulu. Sangat menarik melihat pertunjukkan orang-orang kesenian ini,'' ungkapn­ya.

Sejak saat itu, saya maklum jika saat pulang malam hari lampu teras kos kami belum dihidupkan. Bisa dipastikan sang kawan sedang menikmati hiburan kesukaannya. Waktu kebersamaan kami pun mulai beralih di hari libur, dimana kami jogging memutari lapan­gan di bekas areal MTQ. Setiap Minggu sore, kami pun menghabiskan waktu berlari mengitari lapangan bekas tempat upacara pembukaan MTQ.

Kini, teman saya itu sudah pindah ke Jakarta. Setelah meni­kah, kami pun masing-masing meninggalkan rumah kos. Namun saya tak tau, apakah ia masih gandrung menikmati kesenian Melayu. Sejak keluar dari kos, akibat kesibukan masing-masing, kami mulai jarang behubungan lagi.

Ia mungkin tidak tahu bahwa lapangan tempat kami jogging dulu kini telah menjulang megah gedung teater tertutup dengan nama Anjung Seni Idris Tintin. Gedung besar berasitektur Melayu dengan biaya sekitar Rp150 miliar ini, telah menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Kota Bertuah. Walau belum diresmikan, namun tercatat gedung ini pernah diramaikan artis-artis ibu kota. Ia menjadi saksi sejarah tempat berlangsungnya Festival Film Indone­sia yang sebelumnya hanya berlangsung di Jakarta.

Kawan saya ini, saya rasa mungkin akan bergegas datang ke Kota Bertuah jika saya beritahu adanya pertunjukkan opera Tun Teja di teater tertutup ini. Lama kami tidak berkomunikasi hingga saya lupa kesukaannya terhadap seni budaya Melayu. Namun saya yakin, ia pasti tidak akan lupa dengan tontonannya saat bingung hendak pergi kamana jika malam menjelang, ketika pertama datang dulu.

Banyak yang berharap terutama saya pribadi, Anjung Seni Idrus Tintin mempunyai agenda tetap pagelaran kesenian dan budaya Mel­ayu. Saat opera bertajuk Tun Teja digelar di sana, saya berharap gedung ini rutin menggelar kegiatan serupa. Kesenian, menurut saya merupakan salah objek wisata yang layak dijual kepada para tamu yang datang ke Bumi Lancang Kuning ini.

Jika insan kesenian mampu membuat jadwal tetap dan menyebar brosurnya ke hotel-hotel dan daerah luar Riau, saya acungkan satu jempol. Saya pernah ke Siam Niramit, sebuah pertunjukan opera klasik di Bangkok, Thailand. Ribuan orang antre memasuki gedung pertunjukkan yang besar itu sekadar ingin tahu pertunjukkan kesenian khas Siam. Saya rasa seniman Riau mampu membuat pertun­jukkan spektakuler seperti di Siam Niramit. Tinggal bagaimana konsistensi tersebut tidak teresistensi dengan sebuah produk bernama proposal.***





Rabu, 15 Juli 2009

pergilah ke negeri orang

si mafia di tugu monas




reformasi 98

Cinta Tanah Air?

Saat ini, kalau bicara tentang cinta tanah air, banyak yang akan tertawa. Jika dipooling seluruh warga Indonesia kini, saya rasa mungkin rasa cinta tanah air tak akan sampai 50 persen. Semua orang Indonesia terlihat mulai melupakan rasa sayangnya terhadap bumi nusantara ini. Saat ini, semua orang terkesan pemarah, anarkis, saling tuding, menyelamatkan diri masing-masing, dan kurang cinta kepada negaranya.

MOHON maaf jika ada yang tersingung. Jangan terlampau dimasukkan ke dalam hati, ini hanya pandangan subjektif saya dari pengalaman sehari-hari dan melihat gejala bangsa ini dari liputan media massa yang selalu menampilkan berita jelek jadi headline. Terus terang saya sedih. Mengapa terkesan kita begitu membenci Indonesia ini. Bak salah satu lirik lagu Slank yang berjudul Gossip Jalanan, “kacau balau, negaraku ini.”

Memang banyak yang mengatakan semua kekesalan yang ditumpahkan kepada negara, agar negeri ini bisa berubah. Bisa menjadi negeri yang aman, sejahtera dengan penduduk yang hidup tentram. Tapi yang tak habis pikir, kenapa harus setiap hari negeri ini dikritik terus. Apa penyelenggara negara ini sudah pekak. Atau masyarakat yang jadi tuli? Tak usah kita perdebatkan secara serius.

Tapi, saya disini akan berbagi pengalaman unutk orang-orang yang benci dan kurang sayang kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Sekali-kali, anda pergilah ke luar negeri. Cobalah menetap barang satu atau dua bulan. Jika tak terlalu lama, mungkin bisa satu atau dua minggu saja. Saya berani bertaruh, anda akan rindu terhadap tanah tumpah darah ini.

Saya pernah beberapa kali pergi ke luar negeri. Tak jauh-jauh, hanya negara terdekat di kawasan ASEAN, seperti Singapura, Malaysia atau Thailand. Waktunya pun tak lama, Mungkin hanya dalam hitungan minggu, tak sampai sebulan. Seindah-indahnya negeri orang, namun saya mengatakan Indonesia adalah yang paling indah.

Di Singapura, saya malah dilanda ketakutan saja. Saat akan memasuki check point pintu imigrasi Singapura, ketika itu saya datang melalui Johor melewati jalan di selat yang memisahkan semenanjung Melaya dengan Pulau Singapura. Kami sudah beberapa kali diingatkan sang guide. ‘’Bapak-bapak kami ingatkan agar tidak membawa rokok yang masih belum dibuka bungkusnya. Apalagi kalau membawanya satu sloff. Jangan bertingkah laku aneh, dts…dst…..,’’ cecarnya.

Denda uang jutaan rupiah, kalau nilainya dikurskan atau penjara akan menanti jika tak mematuhi aturan yang ada. Padahal sebagai warga negara asing di Singapura, saya memang tidak tahu banyak aturan yang berlaku. Ingin menikmati liburan, malah kesannya jadi terbebani. Apalagi untuk yang perokok, betul-betul diwanti-wanti agar jangan merokok sembarangan.

Soal belanja atau makanannya, saya rasa lebih hebatlah kita belanja di Bandung atau Bukitinggi. Belanja di Orchad Road mahal-mahal… Saya jadi tak bebas dan terikat disana. Walaupun tidak terlihat ada polisi, tapi bagi saya ini jadi beban. Rindu terhadap Indonesia pun menyergap. Alangkah enaknya hidup di tanah air, kampung halaman kita sendiri.

Suatu waktu, saya ke Malaysia. Di negara yang selalu bermasalah dengan TKI kita ini, saya sudah datang beberapa kali. Ketika kedatangan dengan istri guna berobat kesana untuk kesekian kalinya, saya malah makin cinta dengan Indonesia. Yang saya tak sukai di Malaysia ini adalah, makanannya yang tidak enak. Sangat tidak cocok dengan lidah saya. Ini mungkin yang membuat saya tersiksa.

Makanya saya mencari hotel yang didekatnya ada rumah makan padang. Walaupun yang memasaknya orang Jawa, tapi tak apa-apalah, saya agak sedikit nyaman dan tak kelaparan. Makanan pagi Malaysia seperti nasi lemak, roti jala, nasi hainan dan makanan sejenis yang katanya enak, sangat tidak familiar di lidah saya.

Pernah dulu saya dengan rombongan dijamu oleh, kalau di Indonesai mungkin setingkat gubernur, di Melaka. Kami pergi ke rumah dinasnya yang berada di atas bukit dengan pemandangan yang indah. Tapi saya sangat tidak suka dengan makanan yang disajikan. Saya ini agak sukar kalau menyangkut menu makanan. Hingga kini, terus terang saya tak bisa makanan jenis ayam, ikan laut dan air tawar. Jadi agak tersiksa juga jika disediakan makan jenis itu.

Termasuk saat ke Thailand. Pertama-tama mungkin kita akan enjoy, tapi agak lama akan terasa rindu dengan kondisi tanah air. Entah mengapa, selalu begitu. Saat itu saya masih merokok, rokok yang saya hisap selalu GP (Gudang Garam Filter). Di Bangkok, hampir mampus saya mencari rokok merek ini. Saya berkeliling dari satu kedai rokok ke kedai rokok mencarinya. Pokoknya dalam hati, saya berani bayar mahal jika ada yang menjualnya.

Soal makanan, selama tur, saya lebih banyak makan omelet. Dalam bahasa kitanya dinamakan “telur dadar”.. Menurut kawan-kawan lain makanannya enak-enak, ada Tomyam, aneka makanan laut, dan jenis lainnya. Tapi bagi saya telur dadar tetap favorit. Selain halal, memang itu yang cocok di lidah saya. Lama-lama saya agak sedikit tersiksa juga dengan suasana yang ada. Saya pikir, bagaimana ya dengan orang yang tinggal menetap.

Rupanya hal yang sama dialami juga oleh teman saya yang lama menetap di luar negeri. Shock kebudayaan, menurut teman saya itu juga dialaminya. Sesuatu hal yang baru dan berada diluar kebiasaan sehari-hari, memang agak sulit untuk beradaptasi. Ia bahkan mengaku pernah meneteskan air mata saat mendengar lagu “Indonesia Tanah Air Beta” saat berada jauh dari Indonesia.

“Memang negeri orang jauh lebih tertib, teratur, moderen dan maju dari negeri kita. Tapi percayalah kau, tanah air Indonesia tetap jadi tempat yang paling nyaman, indah bagi kita untuk ditinggali,’’ ungkapnya suatu waktu.

Malah ia juga berani menantang, orang yang tak cinta tanah air, menetaplah di luar negeri. ‘’Kalau tak ingin di Amerika bisa di Irak, Somalia, atau Afghanistan. Bisa dilihat berapa lama ia betah,’’ katanya berceloteh.

Saya juga tak bisa membayangkan, bagaimana dengan para pelarian politik dan tak bisa pulang ke Indonesia. Seperti warga Indonesia yang terkurung di luar negeri saat huru-hara tahun 1965 pecah. Banyak yang dituduh terlibat partai terlarang, hingga akhir hayatnya hanya bisa membayangkan di angan-angan memori kampung halaman yang sangat dirindukan. Seperti kisah Sobron Aidit, adik tokoh sentral partai terlarang yang baru bisa menginjakkan kaki ke kampung kelahirannya, saat hayat menjelang, usai orde reformasi bergulir. Ia pun meninggal di tanah seberang yang ribuan kilometer jauhnya…..***






Kamis, 16 April 2009

Kampung halaman (2)

Kabut pagi


Jalan Hang Tuah usai diperbaiki



Para pekerja sibuk memasang pembatas Jalan Jenderal Sudirman


Setelah berabad menunggu, lampu jalan kini menyala


Salat Id di Lapangan Pokok Jengkol

Masa-masa Remaja yang Menyenangkan

Diakui atau tidak, ada sebuah waktu yang selalu ditunggu-tunggu warga Duri selain hari raya Idul Fitri tentunya. Bagi anak-anak sekolah, waktu ini selalu ditunggu-tunggu dengan harap cemas, akan jadi apa nanti mereka di hari yang ditunggu tersebut. Kegiatan apa pula itu?

BAGI warga Duri pasti tahu hari apa itu. Ya, kegiatan itu adalah pawai hari kemerdekaan RI yang selalu digelar setiap tanggal 17 Agustus. Pawai ini sangat meriah. Selain diikuti oleh seluruh pelajar SMP, siswa SMA, paguyuban, ormas, termasuk juga para kontraktor dan PT Caltex sendiri. Kendaraan operasional mereka seperti mobil rig, traktor, truk dan kendaraan lainnya akan disulap menjadi kendaraan hias. Hingga mobil tersebut menyerupai ikan paus, rumah besar, lokasi pengeboran minyak, istana raja dan lainnya.

Tak kalah, para anak sekolah pun menjadi bukan diri sendiri di hari itu. Bermacam kostum dikenakan, mulai dari pakaian adat se-Indonesia, pakaian berbagai macam profesi dari petani hingga dokter. Termasuk juga berbagai hasil kerajinan yang diusung sepanjang jalan plus marching band. Bahkan dipertandingkan, sekolah mana yang nantinya jadi juara pertama.

Untuk paguyuban, berbagai atraksi daerah asal digelar selama acara di sepanjang jalan. Mulai dari silat, tari piring, talempong, kuda kepang hingga reog. Pada hari itu, semua penduduk Duri tumpah ruah memenuhi pinggir jalan protokol kota satu-satunya, Jalan Jenderal Sudirman. Awal acara, semuanya berkumpul di lapangan Pokok Jengkol. Mulai dari lapangan depan kantor Koramil hingga lapangan di belakangnya hingga sekolah lapangan sekolah kami SMAN 2 Duri, akan disemuti ribuan orang. Dari titik ini maka akan dilepas satu persatu dengan berjalan kaki melwati sepanjang Jalan Jenderal Sudirman menuju lapangan Kantor Camat Duri. Coba bayangkan jarak yang akan ditempuh itu sekitar 10 kilometer dengan berjalan kaki!

Tak ada yang mengeluh dengan jarak yang cukup jauh itu. Semua bergembira, baik peserta maupun para penonton di pinggiran jalan. Pokoknya hari itu, layaknya sebuah pesta rakyat. Tak ada lagi pengelompokan masyarakat atau pengelompokan suku atau putra daerah dan pendatang atau kaya dan miskin, semua sama. Penduduk Kota Duri.

Sejak SMP, tentunya saya selalu mengikuti kegiatan pawai ini. Kostum pekerja minyak, pecinta alam hingga pejuang kemerdekaan pernah saya kenakan di acara pawai ini. Namun ada satu hal lucu hingga kini tak dapat saya lupakan. Kejadian ini saat saya duduk di bangku SMA. Saya dan teman-teman badung di SMA, sangat anti dengan kostum pakaian adat daerah. Jika para perempuan banyak yang minta-minta kepada guru untuk mengenakan pakaian adat tertentu, kami malah takut.

Jadi ketika penentuan kostum apa yang akan dikenakan, semua siswa berkumpul di lapangan sekolah. Kami yang agak bandel, cabut dan ngumpul-ngumpul di kantin belakang sekolah. Setelah agak lama berkumpul, kami merasa keadaan sudah aman dan berjalan ke lapangan depan sekolah untuk bergabung. Namun ternyata apes yang didapat. Kehadiran kami diketahui seorang guru yang lagi berdiri di podium.

‘’Ya, beri tepuk tangan. Kita telah dapat rombongan siswa yang akan mengenakan kostum badut. Ayo sini kalian semua, dicatat namanya,’’ kata sang guru.

Kontan saja, gelak tawa bergemuruh. Wajah kami pun pucat-pasi saat menuju ke depan. Yah, terpaksalah saya dan teman-teman berkonstum badut bodoh, dasar apes… Bagi kami para siswa, berpakaian badut sangat dihindari, karena dinilai kostum yang levelnya rendahlah, hingga tak ada yang mau.

Saat ditanya orang tua dan teman bermain di rumah saya akan berpakaian apa saat pawai, saya hanya dapat merahasiakannya. Pada hari H, kami semua memakai kostum di sekolah, tidak dirumah seperti yang dilakukan orang lainnya. Saya segaja pakai wig, bawa kacamata hitam dengan muka yang dibedaki putih dengan baju layaknya orang hamil. Jadi saat melewati lingkungan rumah saya, tak ada orang yang tahu bahwa saya telah lewat di depan mereka. Keluarga saya sendiri pun saat pawai berakhir dan saya kembali ke rumah, bertanya-tanya apakah saya ikut pawai pada hari itu.

Tapi usai kejadian itu membuat kami jadi waspada. Dengan dalih agar bisa mengamankan rombongan sekolah di sepanjang jalan saat pawai berlangsung, kami menawarkan diri memakai pakaian tentara! Saya sendiri punya stok pakaian tentara kakek saya yang sebelum bekerja di Caltex merupakan tentara di Angkatan Darat. Sementara kawa-kawan lain, meminta surat dari sekolah dan meminjam pakaian tentara yang bermarkas di Dumai.

Kami pun memotong rambut cepak ala tentara. Jadi selama acara, kami yang membawa pentungan dan kayu, menjadi tim penjaga sekolah yang menyuruh warga minggir ke pinggir jalan saat rombongan sekolah kami lewat. Banyak yang menyangka bahwa kami benar-benar tentara, ha.ha..ha, selamat kostum tinggal badut yang memalukan…

Namun saya tak tau apakah kini acara tersebut masih gelar. Karena menjelang era reformasi, pawai kemerdekaan ini tidak pernah lagi dilakukan karena alasan keamanan. Saya berharap kegiatan pawai ini terus berlangsung, karena dengan beginilah suasana Kota Duri yang penuh keakraban akan terbangun. Karena Duri penduduknya terdiri dari berbagai suku, dan kegiatan ini mempunyai nilai positif.***