Minggu, 29 Juni 2008

Berbagi Pengalaman










Bogor Sang Kota Hujan yang Kini Beribu Angkot

Gemercik air mulai menghiasi kolam tanpa ikan. Tanpa adanya pertanda awan gelap, air mulai menetes perlahan-lahan. Saya berdiri di pojok lorong hotel menatap gerimis yang mengguyuri Kota Hujan ini. Rasa suntuk seharian di dalam ruangan pertemuan mulai hilang ketika mendengar suara hujan yang khas tersebut.

SAYA memang baru kali ini betul-betul merasakan berkunjung ke Kota Bogor. Sebetulnya, dulu sekali ketika berumur tiga atau empat tahun saya pernah berwisata kesini bersama kedua orang tua. Saya tak ingat betul detail saat itu. Cuma saya bisa melihatnya dari foto-foto di album keluarga dimana saya bergaya layaknya bocah lugu di pintu pagar depan istana Bogor. Saya lihat di foto itu jalanan basah, mungkin lagi gerimis karena rambut saya juga terlihat basah kena air.

Maklum masih kecil, jadi saya betul-betul tidak ingat memori berkunjung ke Kota Hujan itu. Menurut ortu saya, kami sekeluarga ketika itu berwisata ke Jakarta dan menyempatkan untuk datang ke Kota Bogor. Kini, saya berada telah berada di Kota Bogor. Walaupun tempat saya menginap di Hotel Novotel Bogor yang berada di pinggiran kota tersebut, namun saya bisa merasakan udara Kota Hujan ini.

Dengan menaiki bus wisata, kami dengan rombongan berangkat dari gedung Patra Jasa Jakarta sekitar pukul 10.00 WIB. Di gedung ini, acara pelatihan Jurnalis Migas yang pesertanya dari Riau, Kalimantan Timur dan Jakarta, dibuka secara resmi oleh Kepala BP Migas R Priyono dan Presiden Direktur Chevron. Selanjutnya, rombongan wartawan pun beranjak ke tempat acara di Bogor. Berhubung hari Jumat, maka rombongan langsung berangkat mengingat Salat Jumat. Tak ada yang hal menarik selama dalam perjalan dari Jakarta menuju Kota Bogor. Karena lelah, sepanjang jalan saya pun tertidur lelap.

Sebetulnya, ada waktu satu hari yang bisa saya gunakan untuk istirahat di Hotel Sari Pan Pasifik Jakarta, saat datang dari Pekanbaru. Sebelumnya, saya berangkat menaiki pesawat Garuda pagi bersama dua rekan wartawan lain dan didampingi humas Chevron. Tiba di Jakarta sekitar pukul 11.00 WIB. Setelah check in di hotel Sari Pan dan merebahkan tubuh barang sejenak, saya pun mengajak kawan-kawan untuk makan siang.

Letak hotel Sari Pan memang berada di tengah kota. Di belakang hotel terdapat jalan Sabang yang kiri-kanannya dipenuhi tempat makanan berbagai jenis. Takut dengan makanan yang aneh-aneh, saya mengajak kawan-kawan makan di rumah makan Minang saja. Maklum sudah familiar dengan rasanya. Apalagi rendang di rumah makan ini enak sekali.

Sayang rasanya jika waktu yang selama sehari tersebut saya habiskan hanya di hotel, maka kami pun bergerak untuk menyusuri Kota Jakarta. Semula rencananya akan ke Mangga Dua, namun akhirnya berubah ke Glodok, pusat elektronik yang kabarnya terbesar dengan harga murah. Saya tak ada rencana untuk membeli barang-barang elektronik di tempat ini dan hanya ingin membeli beberapa keping DVD bajakan yang disini harganya sangat murah dibanding Pekanbaru, hanya Rp5.000 perkeping. Saya berencana akan memborong DVD band koleksi saya yang dulu banyak hilang akibat tidak dikembalikan teman yang meminjam. DVD konser Smashing Pumpkins, Pearl Jam atau Offspring yang susah diperoleh dapat saya temui disini.

Saat memasuki sebuah toko guna menemani humas Chevron yang berniat membeli MP4, malah saya yang tertarik untuk berbelanja. Sebuah digital camera lengkap dengan alat perekam video, pemutar musik, game dan aplikasi lainnya, membuat saya tak tahan untuk membelinya. Apalagi kamera digital merek Samsung saya rusak karena jatuh saat pulang dari Bandung beberapa waktu lalu. Akhirnya setelah ditawar-tawar, barang ini pun menjadi milik saya.

Malamnya, tak ada kegiatan berarti yang dilakukan. Sebenarnya saya ingin berjalan-jalan karena saya orang yang tak betah berlama-lama di dalam kamar hotel. Rasanya sayang telah jauh-jauh datang, hanya untuk tiduran di hotel. Tapi nampaknya kawan-kawan seperjalanan ini tidak satu ide dengan saya. Ya, akhirnya hanya duduk-duduk di lobi hotel sambil menikmati hiburan musik. Lalu masuk ke kamar dan tidur cepat, mengingat pagi sekali harus bangun karena acara dimulai pukul 08.00 WIB. Saya pun meminta pihak hotel membangunkan pada pukul 05.30 WIB karena saya susah sekali bangun pagi.

Setelah sarapan di hotel, kami langsung check out dan langsung membawa tas karena akan mengikuti acara di Bogor dan menginap di Novotel. Kami pun mengenakan batik karena menurut humas Chevron, peserta harus berpakaian batik. Sesampainya di Patra Jasa, tempat acara dilakukan, ternyata yang berpakaian batik malah para panitia. Para peserta lain berpakaian bebas. Maka kami pun disangka panitia oleh rakan-rekan wartawan. Termasuk saat peserta naik bus untk berangkat ke Bogor, Sang supir bertanya kepada saya apa sudah bisa berangkat atau tidak, karena dianggap saya sebagai kepala rombongan.

Sepanjang jalan, nampaknya tidur lebih menarik. Walaupun duduk di bangku paling depan, pemadangan sepanjang jalan membuat saya mengantuk. Tak lama, bus pun sampai ke lokasi hotel. Sebuah hotel dengan konsep alam yang unik. Dipenuhi taman dan lorong-lorong, berkonsep bangunan rumah adat di Kalimantan dengan dominan kayu. Berada di kompleks perumahan elit dan lapangan golf, jauh dari kesan hiruk pikuk kota. Mungkin panitia sengaja memilih lokasi ini agar para peserta dapat mengikuti seluruh jadwal acara tanpa bisa bolos. Bagaimana mau bolos, tak ada transportasi umum keluar dari lokasi ini, kecuali dengan kendaraan pribadi.

Kami pun menyempatkan makan siang sebentar sebelum menunaikan Salat Jumat. Usai salat, ternyata kami harus bersabar menunggu, karena kamar banyak yang dibuka. Kelihatan banyak kawan-kawan yang kecewa dan tertidur di kursi karena kelelahan akibat perjalanan jauh. Banyak juga yang protes karena menunggu lama. Akhirnya kami pun memperoleh kunci kamar dan beristrirahat sejenak di kamar.

Karena kelelahan, kami sempat tertidur di kamar dan terlambat mengikuti pelatihan. Tak perlu saya ceritakan disini apa isi pelatihan. Namun pelatihan ini walaupun bersifat sangat teknis membahas masalah seputar dunia perminyakan termasuk masalah bagi hasil, sangat bermanfat menambah ilmu. Hampir sepanjang hari saya terpaku duduk di urutan depan mencoba menyimak pemaparan para pemateri.

Memang suntuk juga, apalagi tanpa acara jeda. Untung, saya punya teman di Bogor ini. Seorang teman yang juga bekerja di bidang perminyakan. Sebelumnya saya sempat kontak-kontak dengannya dan ia berjanji pada malam hari akan menjemput saya dan mengajak keliling Bogor. Sesuai dengan janji ia datang, dan saya mengajak dua kawan dari Pekanbaru untuk ikut serta. Kasihan jika mereka hanya tidur-tidur saja di kamar hotel.

Semula, teman tersebut membawa keliling Kota Bogor. Mulai Tugu Kujang dan berakhir di Tugu Kujang karena mengitari Kebun Raya Bogor yang di lokasi itu terdapat istana Bogor. Tak ada yang menarik dilihat malam hari di kota ini. Saya membayangkan Kota Bogor hampir sama halnya dengan Kota Bukittinggi di malam hari. Menurut teman saya, kini Bogor telah bertambah namanya dari Kota Hujan menjadi Kota Seribu Angkot. Menurutnya, jika pagi hari, maka jalanan akan macet akibat dipenuhi angkot yang ngetem seenaknya.

Puas berkeliling, sang teman pun mengajak ke Puncak. Jarum jam telah menunjukkan pukul 10.30 WIB, tapi ajakan teman tersebut tak saya tampik. Biarlah terlambat besok pagi bangun mengikuti acara, kapan lagi melihat pemandangan di Puncak pada malam hari. Mobil sang teman pun melaju di jalanan menanjak tersebut. Sepanjang jalan menuju puncak, selalu terlihat warga dengan memgang senter menawarkan vila. ‘’Vila, vila mas,’’ katanya sambil menyorotkan lampu senter di tangan kepada mobil kami.

Ketika hampir sampai ke puncak yang ditandai dengan keberadaan rumah makan Rindu Alam, sang teman menyuruh kami membuka jendela untuk merasakan sejuknya udara Puncak malam hari. Ya, hampir sama dingin dengan AC mobil. Kami pun mampir sebentar di pelataran parkir Rindu Alam sekedar melihat pemandangan kota-kota yang ada di bawah. Saat berada di luar mobil, baru terasa badan menggigil disapu angin puncak. Tak tahan dingin, saya pun membeli sweater yang dijajakan pedagang yang berada di sekitar lokasi tersebut.

Usai berehat sejenak, kami pun mencari kedai yang strategis untuk menikmati teh hangat dan mie rebus. Sebuah kedai dengan pemandangan lepas melihat kerlap-kerlip lampu-lampu Kota Bogor, menjadi pilihan kami bersantai sejenak. Sebuah pemandangan yang indah, namun sayang tak dapat saya abadikan karena lupa membawa kamera. Ditemani pengamen jalanan, suasana dinihari di puncak pun makin membuat kami betah duduk berlama-lama. Mungkin suatu waktu nanti saya akan membawa istri dan anak semata wayang saya untuk berwisata ke sini.

Paginya, untung saya tak telat datang ke ruangan acara. Sampai di hotel pada pukul 2.30 WIB, membuat saya harus menyetel alarm HP. Paginya, saya bisa bangun dengan segar walau tidur hanya beberapa jam. Beruntung acara setengah hari, dan siangnya usai acara secara resmi ditutup, kami pun bertolak ke Jakarta. Saya gunakan kesempatan sepanjang perjalanan ini untuk membalas tidur yang kurang tadi malam.

Hotel Sari Pan Pasifik kembali menjadi pilihan untuk tempat menginap. Saya punya waktu sepanjang malam dan setengah hari bebas. Karena besok sore sekitar pukul 15.00 WIB saya akan bertolak dari Soekarno/Hatta kembali ke Sultan Syarif Kasim II. Sampai di hotel saya langusng masuk kamar dan meletakkan tas, langsung cabut ke Hotel Dusit. Disana telah menunggu bos kantor saya. Ia yang dari sebuah acara di Banjarmasin, sengaja menunggu saya di Jakarta. Kami pun berkeliling menikmati Kota Jakarta di malam hari. Tak banyak sebenarnya yang berubah dari Kota Jakarta, sebuah kota yang tak pernah mati, walaupun hingga dini hari masih tetap ramai.

Besoknya, saya menyempatkan diri mengunjungi paman istri yang sedang sakit di rumahnya kawasan Tanah Abang. Pulang dari rumahnya, waktu hampir kasip. Saya mesti check out dari hotel pukul 13.00 WIB. Sementara pesanan istri agar dibelikan baju untuk Rakha dan dirinya belum saya penuhi. Maka untk lebih ringkas saya pun berbelanja di Sarinah saja, dekat dengan hotel dan tinggal jalan kaki. Walaupun harganya lebih mahal dibanding Pasar Tanah Abang atau Mangga Dua, tapi biarlah. Kapan lagi beli baju mahal untuk istri dan anak.

Akhirnya, pesawat Garuda yang saya naiki dari Jakarta, menjejakkan kaki di runway bandara SultanSyarif Kasim Pekanbaru. Walau hanya beberapa hari, saya merasa telah lama meninggalkan rumah. Rindu rasanya ingin bertemu Rakha. Memang rasa rindu terhadap anak ternyata mengalahkan rasa rindu terhadap istri….***







Kamis, 26 Juni 2008

Masih Tetap Garang


aksi bagus dan Coki di purna MTQ Pekanbaru


Meloncat, selalu mewarnai aksi panggung


Duet bas dan gitar

Ketemu Idola
*Netral Sampai Mati

Semula, tak ada niat atau bayangan saya akan bertemu Netral, grup band idola saya. Saya mempunyai koleksi lengkap album grup band ini sejak dari album pertama hingga terakhir. Bahkan lagu-lagu Netral menjadi lagu wajib yang saya bawakan bersama “bobo in the corner”, (band yang saya bentuk bersama kawan-kawan saat duduk di bangku kuliah). Lagu “Tiga Dini Hari” dari album pertama Netral telah sukses membawa kami menjadi band festival saat kuliah dulu.


TELAH lama saya mendambakan melihat langsung konser Netral. Beberapa kali Netral ke Pekanbaru, namun saya baru tahu setelah beberapa hari konser mereka berlangsung. Saat tahu Netral akan konser pada Kamis (26/2) malam di purna MTQ, saya berniat menonton. Walaupun saya kerja masuk malam, namun saya tinggalkan dulu untuk melihat konser band alternatif terakhir di negeri ini.

‘’Hei brur, Netral main Kamis malam,’’ begitu suara Dang, teman dekat saya yang dulu gitaris Bobo ketika menghubungi HP saya. Ternyata saya kalah cepat menghubunginya untuk nonton bareng.

Akhirnya pada Kamis malam, kami pun berangkat ke purna MTQ. Saat sampai, kami kaget melihat antrean panjang memasuki gerbang purna MTQ. Alamak, bisa dua jam ngantre baru bisa masuk nih. Saya pun mencari akal dan memutuskan parkir di Hotel Sahid yang tak jauh dari lokasi konser. Lalu dengan berjalan kaki kami melewati ratusan motor dan mobil yang berdesakan di pintu masuk. Saat masuk ke dalam, yang telihat di panggung baru acara seremoni sponsor dari perusahaan rokok gudang garam yang merayakan ulang tahun ke-50. Ribuan penonton sudah membludak dan kami hanya kebagian menonton di belakang.

Hampir satu jam menunggu, sang idola belum juga muncul di panggung. Selain Netral, panggung juga akan diisi ST12. Penonton sudah gelisah karena tak ada juga tanda-tanda kemunculan di atas panggung. Beruntung MC yang dibawakan Facri Smekot dan Lina bisa membuat sabar penonton menunggu dengan lelucon mereka. Semula saya duga yang akan tampil pertama adalah ST12, karena band ini beraliran menye-menye dan disukai semua orang. Beda dengan Netral yang mengusung kekerasan. Jika Netral tampil terakhir, saya pasti tidak akan selesai menonton, dan bisa mungkin batal menonton. Mengingat begitu lama kantor saya tinggalkan, sementara deadline cetak,tak bisa ditawar.

Namun entah alasan apa, ternyata yang muncul awal malah Netral. Dimulai dengan musik intro, Bagus (bas/vokal), En0 (drum) dan Coki (gitar) berhasil membuat penonton bergeliat. Lagu Super Ego, pun digeber dan membuat penonton di barisan depan bergelinjang dan debu tipis pun beterbangan. Lagu-lagu lain dari album kancut, seperti I Love You, Sorry serta dari album 9th seperti Cinta Gila dan beberapa lagu lain seperti Nurani dan Cahaya Bulan membuat suasana makin panas. Hal ini membuat penonton berteriak-teriak, “air, air, air”. Hal ini memaksa Bagus meminta petugas mobil pemadam kebakaran untuk menyeporkan air ke penonton. Kontan saja semburan air berhasil meredakan suasana panas di penonton barisan depan.

Saat membawakan lagu, Bagus bahkan mengambil topi salah seorang penonton dan memakainya saat tampil di panggung. Hentakan drum Eno yang bertubi-tubi dan full energy, nampaknya memaksa ia menanggalkan baju kaus kutung putihnya. Dari layar scren di sisi pangung terlihat keringat mengucur deras di badannya. Memang bermain drum dengan energi prima seperti itu jelas menguras tenaga. Ditambah lagi Bagus dengan mengacungkan gitar basnya ke atas saat asyik masyuk dengan lagu yang ia bawa. Kadang-kadang ia meloncat bersama Coki yang juga tampil powerful dengan suara gitarnya yang meraung. Walaupun tampil bertiga, namun sound yang mereka hasilnya berhasil memekakkan telingan penonton hingga barisan belakang.

Konser Netral pada malam itu terpaksa diakhiri dengan lagu Pertempuran Hati yang diambil dari album 9th. Penonton pun ikut bernyanyi bersama-sama dengan mengacungkan tangan ke angkasa. Seakan-akan mereka tak rela malam itu konser Netral akan berakhir.

Kami pun usai Netral turun panggung, langsung cabut dari lokasi. Pukul 11.30 WIB, saya melirik jam di tangan kanan. Sudah saatnya balik ke kanntor dan mengecek halaman koran yang dikerjakan para redaktur. Dengan kembali berjalan kaki, Saya dan Dang pun berusaha keluar dari kerumunan orang dan motor kembali ke Hotel Sahid, tempat kendaraan kami diparkir.
Tak dinyana tak disangka, saat sampai di lobi hotel, secara tak sengaja mata saya tertumbuk dengan sebuah mobil yang baru sampai dan terlihat kepala plontos Bagus keluar dari kendaraan tersebut. ‘’Eh, itu Bagus Dang, ayo kita ke sana,’’ kata saya. Dengan setengah berlari saya pun menghampiri Bagus dan menyalaminya dengan erat.

‘’Sukses, konsernya mantap,’’ kata saya.
‘’Terima kasih, tadi nonton ya,’’ kata Bagus
‘’Iya lah, Netral khan idola saya”
‘’Tapi masih ada band lain yang tampil tuh, tak nonton”
“Saya cuma nonton Netral,’’ kata saya.

Saya pun lalu menyalami Eno yang masih bertelanjang dada dan Coki yang masih tetap kalem. Dadang pun menyampaikan kepada Bagus bahwa saya adalah pengoleksi lengkap album Netral. Saya menyampaikan bahwa ada satu album Netral yang tak saya punyai, yaitu album black yang diedarkan terbatas.

‘’Eh, kalau tak salah ada tuh sama Puput. Adakan Put CDnya,’’ kata Bagus kepada managernya Puput.
‘’Ya, ada nih,’’ kata Puput sambil memabawa travel bagnya.
‘’Tak mau foto bareng, sini saya ambilkan,’’ katanya lagi sambil melihat HP saya.
‘’HP Nokia saya tak ada kameranya,’’ jawab saya sambil mengikuti Puput menuju kursi di lobi hotel.

Puput membuka tasnya, dan mengeluarkan satu CD black Netral. ‘’Ada nih, CD sekaligus DVD konser,’’ ia mengulurkannya ke tangan saya. Dadang pun meminta satu lagi. Namun Puput mengatakan bahwa CD dan DVD tersebut merupakan merchandise yang dijual. Kami pun menyanggupinya.

Tak lama kemudian Bagus, Coki dan Eno menyusul. Eno sibuk melihat-lihat kamera digital yang menjepret penampilan mereka tadi. Sementara Bagus dan Coki sibuk membahas aksi penampilan mereka.

“Gimana penampilan kami tadi, ada yang kurang,’’ tanyanya.
‘’Ya, suara bas Bagus tadi kurang keluar,’’ kata saya.
‘’Coki juga tadi ada sedikit meleset main gitarnya,’’ kata Dadang lagi memberi masukan.
‘’Oh, begitu ya. Khan betul apa tadi gue bilang,’’ kata Coki kepada Bagus.
Saya pun menanyakan apa kabar anaknya kepada Bagus dan dijawabnya dengan senyum. ‘’Capek betu tadi, saya sekarang saya masih ngos-ngosan dan masih mencoba mengambil napas,’’ katanya sambil selonjor di kursi.

Puput sang manager kemudian menawarkan kembali foto bersama dengan kamera digitalnya. ‘’Tolong smskan emailnya ke HP saya, nanti saya kirim,’’ ujarnya kepada saya.
Akhirnya saya dan Dang pun berpose bersama artis idola saya yang tak pernah mati ide ini. Tak cukup satu jepretan Puput mengambilnya hingga tiga kali.

‘’Kapan pulang ke Jakarta,’’ kata saya.
‘’Besok pagi jam lima berangkat dari Hotel. Pesawatnya berangkat pukul 7,’’ jawabnya.
Bagus pun kemudian pamit ke kamar kepada kami sambil menyalami erat tangan saya.
‘’Sukses selalu, saya tunggu albumnya yang kesepuluh,’ kata saya.
‘’Terima kasih, doakan ya,’’ katanya. Rombongan pun masuk ke lorong hotel menuju kamar masing-masing.

Setelah berbincang sebentar dengan Puput kami akhirnya juga pamit.
‘’Tak disangka, saya hampir kehilangan kata-kata,’’ Dang kepada saya saat kami hampir sampai di parkiran.***

nb: foto-foto dari fotografer Riau Pos, Said Mufti....






Jumat, 16 Mei 2008

Memang Menyedihkan


Terus mengangguk sejak tahun 1942


Untuk siapa minyak ini ditampung?


Beli bensin kini wajib antre


Kembali ke zaman PKI


Demi setetes minyak tanah


Jerigen pun ikut antre


Makin Banyaklah Masyarakat yang Menderita


KALI ini kembali janji usang itu terlupakan. Masih terngiang di dalam benak masyarakat terhadap janji pemerintah yang dengan tekad bajanya menyatakan tidak akan menaikkan lagi harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri. Setelah sebelumnya warga hampir
semaput dengan kenaikan drastis BBM yang nilainya disamakan dengan harga luar negeri. Walaupun ketika itu banyak yang protes, namun akhirnya bisa pasrah menerima nasib.

Dampaknya pun bisa diduga. Di berbagai pelosok tanah air bermunculanlah kasus busung lapar. Meningkatnya jumlah orang gila, bunuh diri hingga membunuh anak sendiri karena tak tahan dengan himpitan ekonomi yang terus mendera. Namun pemerintah tanpa merasa bersalah, saat itu menyatakan bahwa kenaikan BBM memang harus dilakukan dengan alasan klasiknya. Yakni subsidi BBM yang besar membuat banyak penyelundupan minyak ke luar negeri, subsidi yang hanya dinikmati oleh orang kaya serta janji subsidi BBM dialihkan untuk masyarakat miskin dan kegiatan lain seperti untuk pendidikan, kesehatan dan lain-lain.

Hal ini pun membuat sesak kantor-kantor pos yang berada di seluruh Indonesia. Warga miskin dan yang berpura-pura miskin antre mengambil uang tunai. Malah banyak yang pingsan dan hampir mati akibat antre mengambil uang sebesar seratus ribu satu bulan tersebut.

Apakah cita-cita pemerintah yang mulia untuk warga miskin ini tercapai? Nampaknya jauh panggang daripada api. Kondisinya malah makin kacau-balau. Kehidupan masyarakat terlihat seperti kembali di zaman komunis. Dimana terjadi antre hanya untuk membeli sejer¬igen minyak tanah, antre mendapatkan satu tabung gas elpiji, antre untuk satu liter minyak goreng dan berbagai antre lainnya.

Sejak subsidi BBM dibeda-bedakan antara umum dan bukan umum, maka sejak itulah kesulitan lain membuat warga menderita.

Sebenarnya kalau hitung-hitungan bodoh, orang kaya dan pemilik industri kan warga negara Indonesia juga. Kalau sekiranya mereka kalangan industri dikenakan harga khusus untuk BBM, bagi mereka tak ada masalah. Tinggal menaikkan harga jual produk mereka, selesai perkara. Imbasnya, tentu masyarakat indonesia yang kebanyakan masih miskin.

Disamping sebagaimana kita ketahui bersama, pengawasan dari pemerintah di negara ini tidak maksimal. Wajar saja banyak terja¬di penyelundupan dan pengoplosan minyak bersubsidi. Dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) pun menguap seiring makin merangseknya harga sembako di pasaran.

Kini, pemerintah nampaknya akan mengulangi hal yang sama. Alasannya adalah makin bengkaknya subsidi BBM di APBN seiring meroketnya harga minyak dunia. Para ahli pemerintahan dan ekonom serta pengamat lainnya mengatakan bahwa jika tidak dinaikkan harga BBM maka pemerintah akan kehabisan uang di APBN dan negara akan bangkrut.

Suatu alasan yang masuk akal memang. Namun bagi yang kritis tentu akan mempertanyakan, apa betul prediksi tersebut. Mengingat Indonesia adalah negara pengimpor minyak, walaupun lifting min¬tyak dalam kisaran 900 ribu barel perhari. Apakah tidak ada keun¬tungan besar yang didapat akibat naiknya harga minyak dunia. Mengapa hanya kerugian saja yang dihitung, beberkan juga berapa keuntungan yang diperoleh. Maka dengan keuntungan itu, mungkin bisa menombok besaran subsidi.

Masyarakat kini tak ingin lagi dibuai janji. Yang mereka inginkan sembako murah, rakyat sudah lapar. Jangan sampai membuat mereka mati kelaparan dengan naiknya harga BBM. Bagaimana caran¬ya, ya itu tugas pemerintah memikirkan. Jangan sampai BBM membuat banyak masyarakat menderita***

Kamis, 08 Mei 2008

Reformasi Gagal Total




Sepuluh Tahun yang Sia-sia

PADA suatu malam di awal bulan Mei ini, saya berbincang dan duduk santai dengan seorang teman akrab. Kami telah berteman lama sejak duduk di bangku kuliah dan merasakan zaman-zaman gejolak jiwa muda. Termasuk aksi demonstrasi di Riau, mulai dari demonstrasi penurunan Soeharto hingga aksi-aksi yang menuntut hak daerah memperoleh kekayaan minyak Riau hingga munculnya slogan Riau Merdeka. Saat sedang santai di rumah makan ini, secara tak sengaja televisi di sana menyiarkan kilas balik reformasi yang dipelopori para mahasiswa. Kami pun kembali teringat saat masa-masa turun ke jalan dan berada di garda depan aksi mahasiswa.

Kawan tersebut pun saya pancing, bagaimana kalau kiranya pengalaman-pengalaman selama merancang dan mengikuti aksi dulu kita buat dalam buku. Hingga nanti kisah tersebut dapat menjadi sebuah refleksi sejarah bahwa Riau pun punya gerakan yang mengubah masa depan bangsa ini. Sang kawan itu hanya tertawa. ‘’Buat apa, tak ada gunanya. Malah salah-salah nanti masuk penjara pula,’’ katanya sambil menghisap rokok dalam-dalam.

Ia pun terdiam sejenak dan kembali sibuk memperhatikan layar televisi di depannya. Saat jeda iklan masuk, ia pun kembali berujar. ‘’Bagusnya kita kubur saja dalam-dalam apa yang telah dilakukan dulu. Kerja sia-sia dan tak ada gunanya. Bahkan saya pikir tak layak untuk diingat karena akan menyakitkan. Apa yang kita perjuangkan, tak satupun yang kelihatan terwujud, malah tambah kacau,’’ katanya yang kini mulai terpancing.

Saya senang lihat ia mulai respon karena saya pun ingin melihat bagaimana reaksi salah satu garda terdepan aksi mahasiswa Riau ini kini berkomentar. Dulu, kami boleh dikataka agak militan, apalagi mengenai masalah aksi. Karena Mabes kami di Surat Kampus Bahana Mahasiswa Unri kerap menjadi intaian para intel-intel aparat hampir setiap malam. Karena di sinilah hampir sebagian besar aksi-aksi di Riau tersebut disusun dan bahkan mencapai puncaknya ketika usai melakukan diskusi hangat di sebuah sore yang menimbulkan kata sanger Riau Merdeka yang digaungkan oleh Profesor Tabrani Rab kala itu.

Kemudian teman saya tadi pun berkomentar lagi. ‘’Ya wajar saja Soeharto kalah. Ia seorang diri dikeroyok beramai-ramai oleh para mahasiswa se-Indonesia. Tentu saja kalah kan,’’ kali ini ia bicara dengan nada sedikit tertawa dan terkesan tidak serius.

Kalau saya melihat respon sang kawan ini, memang terlihat ia kini agak skeptis dan terkesan mulai acuh dengan keadaan sekitar. Tidak seperti waktu mahasiswa dulu dimana jika bicara masalah rakyat banyak, ketimpangan sosial dan warga Riau yang selalu tertindas, maka ia akan menggelegak-gelegak.

Saya pun kemudian menimpalinya. ‘’Kalau saya lihat, semua yang kita kerjakan dulu dalam menuntut uang minyak Riau agar dikembalikan secara adil oleh Jakarta (pemerintaha pusat), kini memang sebagiannya terwujud. Namun dana yang besar itu hanya bisa dinikmati para PNS saja. Dengan adanya reformasi, gaji mereka naik dengan segala tunjangan dan tambahan penghasilan serta tetek bengek lainnya. Para PNS yang dulu hidup terkesan pas-pasan kini terlihat sudah hidup sejahtera. Sementara masyarakat bawah, makin miskin. Ditambah lagi dengan aksi-aksi Satpol PP yang tidak populer dengan alasan penertiban membuat masyarakat bawah sering tergusur,’’ kata saya dengan panjang lebar.

Kali kawan tersebut terlihat tidak bersemangat. ‘’Entahlah Pak. Daripada sibuk mengurus hal tersebut lebih baik kita urus keluarga kita saja. Bagaimana anak istri kita bisa makan esok hari. Biarlah mereka berfoya-foya karena hasil perjuangan kita dahulu. Lantaknyalah…’’ ketusnya.

Nb:
Suatu saat mungkin saya akan membuat tulisan mengenai aksi mahasiswa “jadul” di Riau ini. Saya masih mengumpulkan memori yang tercecer. Maklum bertambahnya usia membuat otak ini makin penuh. Bahkan teman sendiri yang kalau lama tak jumpa, sekali jumpa malah sering lupa nama. Tak etislah kalau kita tanyakan “Aduh saya lupa, siapa ya nama Bapak?”







Senin, 14 April 2008

Rumah Gadang


Rumah gadang Datuak Sinaro nan Kuniang


Di depan tangga masuk

 
My wife...

Macam Siti Nurbaya saja..


Bagian samping rumah


Datuak Sinaro nan Kuniang


Brankas besi jadul


Suasana di dalam rumah


Kursi lama yang masih awet


Dibalik kelambu


Cerita di balik Sebuah Rumah
SAYA adalah pengagum bangunan-bangunan kuno, terutama yang dibangun pada zaman kolonial. Rasa kagum akan muncul ketika memasuki bangunan yang dibangun di zaman Belanda. Seperti baru-baru ini, saya menginap di Hotel Bumi Asih yang terletak di Jalan Cimalaya nomor 1 Bandung, tepatnya di belakang Gedung Sate. Hotel ini sangat kolonial habis.

Pemiliknya tetap mempertahankan ciri khas kolonialnya, seperti di bagian, resepsionis, lobi, ruang makan dan paviliun kiri-kanannya. Saat sarapan pagi di ruang makan dengan jendela khas Belanda, saya membayangkan bagaimana dulunya para kolonialis saat berada di ruangan ini. Terasa sangat eksotik. Menurut para pekerja hotel tersebut, gedung tersebut dulunya juga diperuntukkan untuk tempat menginap para pejabat kolonial.

Ditambahkannya, hingga kini bangunan tersebut masih tetap dimiliki oleh orang Belanda. Hingga nuansa kebelandaannya masih tetap dipertahankan walaupun ada tambahan bangunan baru di bagian belakang. Sama halnya juga dengan Hotel Padang, yang juga bekas bangunan Belanda. Saya juga sempat menginap di hotel yang mempunyai langit-langit tinggi ini.

Namun yang lebih menarik minat saya adalah bangunan yang dibangun kaum pribumi di zaman kolonial dan kini tetap bertahan. Beberapa waktu lalu, saya dibawa istri dan mertua saya ke kampung halamannya di Koto nan Gadang, Payakumbuh. Saya takjub begitu sampai di halaman rumah peninggalan neneka moyang istri saya itu. Sebuah rumah gadang yang dibangun pada tahun 1905, namun masih kokoh tegak berdiri seakan tak lekang dimakan waktu.

Di sekitar lokasi tersebut, terlihat berjejer rumah gadang-rumah gadang serupa dengan lumbung padi yang dinamakan rangkiang. Rumah buyut istri saya ini tercatat sebagai rumah yang paling tua di daerah tersebut. Didominasi warna kuning dan hijau, rumah ini ditopang oleh tembok besar dengan tangga khasnya.

Rumah tersebut tak ada yang menghuni. Karena mertua saya yang merupakan anak perempuan satu-satunya di keluarganya, sejak awal menikah telah tinggal di Pekanbaru. Di Minangkabau, rumah gadang jatuh ke tangan anak perempuan. Hingga rumah ini selalu ditutup dan dibuka jika ia pulang kampung saja. Seperti saat saya datang kemarin, rumah besar ini langsung dibersihkan dan semua jendelanya dibuka lebar-lebar. Saya pun di daulat menempai kamar tidur utama bersama istri. Rasanya seperti kembali ke zaman datuk-datuk saja rasanya.

Datuk istri saya masih hidup. Umurnya 95 tahun dan masih sehat. Ia sendiri juga mempunyai rumah gadang di sekitar daerah tersebut dengan areal kesenian atau dinamakan “medan bapaneh” khusus yang dibangun pemerintah di halaman rumahnya. Areal ini kerap menjadi tempat latihan kesenian warga sekitar. Istri saya memanggilnya datuak kudo, karena dulu memiliki banyak sekali kuda terutama kuda pacuan yang kerap diadu di ajang pacuan kuda Payakumbuh.

Pada saat pecah perang saudara antara daerah dengan pemerintah pusat yang disebut perang PRRI, kuda-kuda datuak pun dilarikan tentara pusat hingga hanya tinggal istal-istalnya dan satu ekor kuda. Saat itu mayoritas masyarakat Minangkabau mengangkat senjata melawan kesewenang-wenangan pemerintahan Jakarta dan menuntut porsi pembangunan di daerah. Tentara bersama rakyat terpaksa mengungsi ke hutan menahan gempuran tentara pusat dibawah pimpnana Ahmad Yani.

Kini daerah tersebut nampaknya memang dijadikan daerah wisata untuk rumah gadang. Terbukti dari peranan pemerintah dalam memugar rumah-rumah gadang disana. Bahkan rumah gadang istri saya baru saja selesai direhab pemerintah, walaupun hanya berupa mengecat ulang dan mengganti lantainya saja. Penduduk di sana pun saya lihat mempertahankan tradisi nenek moyang mereka, terlihat dari rutinnya latihan-latihan kesenian yang mereka lakukan. Saya yang berkeliling disana merasa melihat sebuah kehidupan masyarakat Minang di zaman Belanda. Nampaknya cocok jika dijadikan lokasi film bertema zaman kolonial.

Pada malamnya, saya banyak mendengar cerita dari paman istri saya dan datuknya. Ya, sekitar masalah sejarah daerah tersebut. Menurut datuknya, dulu ada tahun 1920-an, Kota nan Gadang tersebut dilanda kebakaran hebat. Ratusan rumah habis dipanggang api, yang dilihat penduduk seperti api loncat, karena bisa meloncat-loncat ke rumah-rumah lainnya. Daerah tersebut pun rata dengan tanah. Namun rumah gadang istri saya selamat dan tak sedikitpun disentuh oleh lidah api. Hingga ia pun kini menjadi rumah tertua yang dibangun di daerah tersebut. Namun menurut paman istri, rumah itu dibangun pada tahun 1901. Untuk tahun 1905 dibuat karena ukiran di atap dibuat terakhir pada tahun 1905.

Dirumah tersebut, masih terlihat beberapa peninggalan seperti lemari brankas besi model lama, ranjang besi berkelambu buatan Inggris, koper yang terbuat dari baja serta pakaian-pakaian, tongkat datuk dan benda lainnya.

Sayang, saya hanya sehari saja di kampung istri saya tersebut karena hanya libur kerja sehari saja. Pagi-paginya saya menyempatkan diri ditemani istri yang baru bangun tidur berkeliling kampung melihat kebun-kebun milik mereka. Di belakang rumah gadang istri saya, mengalir sungai yang cukup dalam.***




Minggu, 13 April 2008

Tanding


Sebagai penggembira, saya (paling kanan), hanya berdiri-diri saja...


Berjibaku


Kwak, kwak, kwaaak..


aduh, piusiiing...


Masih sempat bergaya di papan skore


Abis olahraga, langsung ngebul

Demam Futsal Ceria
BEBERAPA hari belakangan kantor kami mulai mempunyai satu topik yang selalu ramai dibicarakan. Mulai dari depan meja komputer, ruang rapat redaksi, hingga merambah ke kantin. Topik apa gerangan? Pembaca tentu sudah bisa menduga, apalagi kalau tidak masalah futsal. Itu, olahraga bola yang dimainkan di lapangan khusus, dimana lapangannya lebih kecil daripada lapangan bola biasa, dihiasi rumput sintetis dan di balut jaring mulai dari sisi samping, kanan, depan belakang hingga atas. Ya, saking gencarnya gosip futsal ini, maka kawan-kawan di redaksi pun membuat tabloid khusus bernama Ceria yang ditempel di papan pengumuman di redaksi lantai 2.

Bagi saya yang tidak hobi olahraga, pembicaraan futsal ini sebenarnya garing dan membosankan. Apalagi saat main futsal saya hanya main selama lima menit pertama saja, setelah itu keluar. Capek dan tak hobi serta tak pandai, mungkin alasan mengapa saya tak betah berlama-lama di lapangan tersebut. Memang banyak juga kawan-kawan yang juga tidak pandai main bola, tapi tetap bersemangat hingga terbanting-banting dan lutut berdarah-darah. Ternyata yang membuat mereka bersemangat termasuk tim kami di “Metropolis” adalah hadiahnya. Yakni Rp10 juta untuk juara satu, Rp5 juta untuk juara 2, Rp4 juta bagi juara 3 hingga Rp1 juta untuk juara 6. Hingga semua awak redaksi dan percetakan bersemangat bertanding selama dua kali dalam satu bulan. Diperkirakan menjelang bulan puasa baru pertandingan akan berakhir dan hadiah dibagikan.

Memang, sejak Riau Pos terbit non stop mulai tahun 2003, membuat awak redaksi kelelahan “otak”. Sebelumnya, jika ada tanggal merah yang mepet di hari minggu, maka acara “Tadabur Alam” (acara wisata ke luar kota) akan dilakukan. Seperti jalan-jalan keliling Sumbar, atau keliling Medan dan Brastagi dan wisata lain di Sumut. Acara ini, jelas selain ampuh membuat otak fresh juga merupakan ajang untuk saling mengakrabkan diri antara satu sama lainnya.

Sejak tahun 2003 hingga tahun 2008 ini, tak ada lagi acara jalan-jalan tersebut. Pernah dulu ada acara jalan-jalan ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Sebagian rekan-rekan kami diberangkat mengikuti kegiatan ini. Janji kantor, sebagian lagi yang belum berangkat akan diberangkatkan pada tahun berikutnya, dan saya termasuk yang belum berangkat. Namun hingga kini janji tersebut tak pernah terealisasi.

Jadi kini terpaksa awak redaksi yang dimotori Pemimpin Redaksi Zulmansyah, merancang berbagai kegiatan yang lingkupnya dalam kota. Seperti tahun lalu dengan mengadakan acara keluarga di Taman Pancing Alam Mayang.

Hingga kemudian dirancanglah tanding futsal yang wajib diikuti oleh seluruh personel redaksi dan pracetak. Mulai dari yang tua, anak gadis hingga “amak-amak” ikut turun merumput. Layaknya pemain tanguh, mereka pun lari kesana-kemari mengejar bola.

Oleh karena itu, saya lebih suka menonton tanding futsal dibanding ikut main. Karena melihat rekan-rekan main, umum para amak-amak, layaknya menonton acara lawak di televisi. Lucu habis…


Minggu, 23 Maret 2008

belanja....


Mari singgah...




Terpana diskon...



Dipilih-pilih....




Pasar Bawah yang selalu dicari para wisatawan



Pasar Pusat yang berubah jadi Plaza Sukaramai



Plaza Citra yang kerap dinamakan matahari, masih tampil prima



Mal Pekanbaru berkilau di kala malam



Mal Ska dengan hiasan air mancur



Pancaran sinar lampu Mal Ciputra Seraya saat senja menjelang



Wisata Pekanbaru, Ya Belanja

Seorang bocah berteriak kegirangan ketika turun dari bus carteran saat sampai di Mal Ska Pekanbaru. Ia seakan tak sabar masuk ke dalam pusat perbelanjaan yang saat itu lagi ramai-ramainya. Sang ibu yang memegangnya pun, terpaksa setengah berlari mengikuti si bocah.

SEAKAN tidak peduli dengan ramainya kendaraan dan lalu lalang manusia, bocah itu lalu lari dan melepaskan diri dari pegangan ibunya. Maka terpaksalah saudara-saudaranya yang lain mengejarnya agar tidak hilang di tengah ramainya warga yang hilir mudik membawa tentengan.

Begitulah salah satu pemandangan yang terlihat di Kota Pekan­baru saat ini. Jika hari libur tiba, maka Kota Bertuah ini pun akan diramaikan oleh warga dari daerah sekitarnya. Hotel-hotel kecil yang berada di pusat keramaian bisa penuh oleh tamu. Angku­tan kota yang biasanya berebut penumpang saat hari biasa, mungkin bisa lebih santai pada hari libur karena hampir setiap saat kendaraan mereka penuh membawa "sewa".

Kalau dilihat secara kasat mata, mungkin warga Pekanbaru sendiri heran melihat kota mereka ramai didatangi warga dari daerah lain. Apa sebenarnya yang dicari? Karena untuk urusan wisata, Pekanbaru bisa dikatakan tergolong miskin dengan keinda­han alam dan tempat-tempat sejuk lainnya yang bisa membuat santai keluarga. Ditambah lagi dengan kemacetan yang selalu melanda jalan-jalan protokol kota pada jam-jam sibuk serta tingkah laku angkutan kota yang membuat "muak" para pengendara.

Memang ada kawasan yang dikhususkan Pemerintah Kota Pekanbaru untuk tempat wisata alam seperti kawasan Danau Buatan. Namun saat ini kawasan tersebut terkesan tak terurus dan makin hari minat orang berkunjung ke sana pun makin berkurang. Ditambah lagi tidak ada sesuatu hal yang baru dan menarik lagi sehingga membuat daerah tersebut kian tidak diminati. Ada juga tempat wisata alam dan tempat memancing yang dikelola pihak swasta. Walaupun lebih banyak dikunjungi warga kota, namun untuk warga luar daerah nampaknya lokasi tersebut bukan menjadi tempat tujuan favorit.

Lalu apa yang membuat warga luar daerah mendatangi Ibu Kota Provinsi Riau ini? Belanja lah jawabannya. Seperti yang diungkap­kan oleh Rini dan Jum, dua ABG asal Kota Duri ini. Setiap berkun­jung ke Pekanbaru, haram hukumnya kalau mereka tidak mengunjungi mal dan plaza yang bertebaran di kota ini. ''Di tempat kami tak ada plaza. Jadi kalau mau beli pakaian keluaran terbaru, terpaksa harus ke Pekanbaru. Ditambah lagi, banyak diskon, jadi murah-murah,'' ungkap mereka polos.

Hal yang sama juga diungkap ibu Isau yang datang dari Bangki­nang dengan membawa rombongan dengan mobil carteran. Menurutnya, selain belanja, ia bisa cuci mata dan membawa anaknya menikmati permainan yang ada. ''Tompek kami ndak ado yang coiko do,'' ungkapnya saat ditemui sedang menikmati santap siang dari rantang yang sengaja mereka bawa dari rumah.

Memang sebagai kota yang berada di tengah pulau Sumatera, Pekanbaru memiliki lokasi yang strategis dan mudah dijangkau dari berbagai penjuru. Hal ini membuatnya sebagai lintasan yang ramai dilewati. Ditambah lagi sejak tahun 90-an ke atas, berbagai tempat perbelanjaan baru mulai menjamur. Diawali dengan Plaza Senapelan sekitar tahun 1991, diikuti dengan dibukanya Plaza Citra tahun 1995 membuat Pekanbaru tumbuh menjadi lokasi berbe­lanja baru. Kemudian diiringi dengan perehaban Pasar Pusat yang dirubah menjadi Plaza Sukaramai, pembukaan Mal Pekanbaru di tengah-tengah kota serta Mal Ska yang berada di perempatan jalan lintas, hingga Mal Ciputra Seraya yang paling bontot. Dan kini yang mulai banyak diisi pedagang adalah Pasar Senapelan yang baru saja direhab pemerintah kota.

Namun satu tempat belanja favorit kaum berduit yang tidak bisa dilupakan adalah Pasar Wisata Pasar Bawah. Tempat perbelan­jaan barang-barang bermerek asal luar negeri ini menjadi langga­nan tetap pembeli dari luar daerah yang agak sedikit berkantong tebal. Berbagai barang bermerek dengan harga miring bisa dipero­leh di sini. Keramik, karpet, hiasan dinding serta perabotan rumah unik bertebaran di pasar ini.

Dengan memiliki mal dan plaza yang banyak tersebut, Pekanbaru memang layak disebut surga belanja baru di tengah pulau Sumatera. Peluang-peluang bisnis pun membuat para pedagang berdatangan menjajakan barang-barang baru di kota ini. Seperti halnya dimana ada gula disana pasti akan berdatangan semut, maka dimana banyak barang baru dijajakan, maka pembeli pun akan ramai menyambangi.

Beberapa warga kota sendiri sempat pesimis melihat banyaknya bertaburan pusat perbelanjaan yang akan diprediksikan akan len­gang. Namun seiring berjalannya waktu, lokasi perbelanjaan terse­but malah tak pernah sepi. Pengunjung bahkan membludak di saat akhir pekan atau tanggal merah.

Malah banyak warga luar yang datang pada hari-hari khusus seperti menjelang Hari Raya Idul Fitri, Natal atau Imlek. Karena pada momen tersebut maka perang diskon pun akan ditabuh oleh setiap tempat perbelanjaan untuk menarik minat pembeli. Mereka sengaja memperpanjang waktu tutup hingga tengah malam seperti menjelang Hari Raya Idul melihat membludaknya pembeli.

Maka kini tak heran jika Pekanbaru disebut sebagai lokasi wisata belanja baru. Surga bagi kaum hawa yang selalu haus dengan barang-barang baru. Tak juga haram bagi para kaum Adam yang banyak datang sendirian sekedar hanya cuci mata.

Namun belajar dari negeri jiran, guna lebih menarik banyak warga datang, sudah saatnya Pemerintah Kota Pekanbaru membuat konsep dan perencanaan yang matang dalam mempersiapkan diri menjadi surga belanja tersebut. Seperti menjual wisata belanja dengan diskon spesial ke luar daerah. Sebagaimana yang dilakukan Singapura dengan Singapura Uniqely-nya. Jangan malah membuat suasana makin tak kondusif hanya untuk mengejar PAD tak seberapa dengan senjata SITU.***