Senin, 05 Januari 2009

Lagi-lagi Tentang Musik


Piano membuat jiwa jadi sentimentil


Menyanyi ternyata bisa menyehatkan

Piano
Tiba-tiba tangan saya merasa gatal saat memasuki sebuah hotel yang terletak di bilangan Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta, beberapa waktu lalu. Sebuah piano klasik hitam dengan tuts terbuka berserta kursi di depannya terlihat menggoda. Ia seakan menunggu di sudut ruangan untuk dimainkan. Sudah lama rasanya saya tidak memencet tuts piano dan rindu sekali ingin memainkannya.

WAKTU kecil dulu, sekitar umur enam tahun, saya punya sebuah piano kayu kecil berwarna biru. Mainan mobil-mobilan yang sudah dua kardus, sudah tidak menarik lagi setelah saya mendapatkan piano ini. Setiap ada waktu, saya memencet-mencet piano ini walaupun belum tahu nada. Pokoknya pencet sana, pencet sini, yang penting bunyi. Sampai ibu saya pusing mendengar saya setiap saat membawa-bawa piano itu dan terus memencet-mencetnya.

Ketika saya duduk di bangku kelas tiga SD, saya dibelikan piano atau tepatnya organ. Kali ini lebih canggih karena dilengkapi dengan berbagai macam bunyi alat musik dan suara band pengiring. Saya gembira sekali waku itu. Ditambah lagi suara organ ini makin mantap setelah disambungkan ke amplifier di rumah. Setiap pulang sekolah, saya pun terus berlatih di rumah. Buku-buku musik pun saya beli dan saya belajar sendiri secara otodidak.

Tidak ada yang berani menyentuh organ ini. Saat tak ada di rumah, organ ini saya simpan di lemari saya. Adik-adik saya sendiri pun tak saya perkenankan memegangnya. Memang kalau diingat-ingat, saya saat itu begitu egois. Semua barang pribadi saya, tak boleh ada yang menganggu. Tak seperti anak-anak yang paling tua lainnya, saya tak mengenal istilah mewariskan barang-barang kepada adik-adik. Semua barang saya, mainan, sepatu, buku, kaset, majalah, baju dan lainnya, tidak pernah saya berikan kepada adik-adik. Jadi di rumah, saya seakan menjadi raja. Bahkan saya tidur di kasur dan kamar sendiri dan tak boleh ada yang menganggu. Kalau ingat hal itu sekarang, saya merasa berdosa dan merasa salah kepada adik-adik saya. Namun, anehnya, saat itu adik-adik itu tak penah protes kepada saya. Tidak tahulah kalau di dalam hati mereka.

Piano, telah menjadi bagian hidup yang ikut menemani sejarah kehidupan saya saat kecil hingga remaja. Di sekolah, saat pelajaran kesenian, saya menjadi orang yang paling, dapat dikatakan mantaplah, dalam bermain piano. Walaupun tak begitu mahir, saya berada di urutan terdepan kawan-kawan di kelas kalau bicara masalah main piano. Mungkin, teman-teman kurang terlatih bermain alat musik ini karena tak memilikinya. Hanya ada satu dua teman yang pandai.

Saat duduk di bangku SMA, saya dapat lagu satu buah organ. Kali ini saya dapatkan dari tante saya. Waktu libur sekolah, saya menghabiskannya di rumah nenek di Dumai. Kala itu, saya melihat sebuah piano dengan ukuran standar, terlihat menganggur dan berdebu. Sementara itu, tante mempunyai sebuah piano besar lain yang juga tak ada yang memainkannya, kecuali saya jika ada di sana. Sepupu perempuan saya nampaknya tak tertarik dengan alat musik ini, walaupun ia diberi kursus oleh guru privat untuk memainkannya. Maka piano yang ukuran sedang ini pun menemani hari-hari saya di rumah.

Sejak saya membeli gitar bekas milik teman, piano jadi terlupakan. Saya menjadi lebih tertarik memainkan alat petik ini, dan juga belajar secara otodidak dari buku musik yang saya beli. Serta belajar dari majalah-majalah musik yang saat itu banyak memberikan chord-chord lagu yang sedang ngetop. Nampaknya, main gitar itu kelihatan macho dan dapat dibawa kemana-mana. Tak perlu arus listrik dan bisa jadi hiburan kala berkumpul dengan rekan-rekan. Apalagi saat-saat tahun terakhir duduk di bangku SMA, saya banyak menghabiskan waktu malam hari di rumah teman. Jadi, gitar jadi alat pergaulanlah…

Gitar ini pun saya bawa ke rumah kos ketika kuliah dulu. Malah pernah bapak kos saya bercanda ingin menjadikan gitar saya sebagai kayu bakar karena saking hancurnya akibat sering dimainkan. Saya kos di sebuah pavilun rumah lantai atas yang punya teras. Jadi gitar saya letakkan di luar kamar, di teras atas itu. Karena, banyak teman yang datang ke kos saya, jika saya tak ada di kamar, mereka bisa menunggu sambil main gitar. Saya kala itu begitu tergila-gila dengan musik dan gitar jadi tempat pemuasannya. Hingga akhirnya gitar saya itu patah dua akibat lapuk dimakan usia.

Namun saat pulang ke rumah, kerja saya hanya di rumah saja dan memainkan piano. Dari sore hari hingga malam, kerap bermain piano ini saya lakukan. Ketika kuliah, teman-teman saya banyak yang melanjutkan pendidikan di kota lain. Jadi saat pulang ke rumah, saya malas kemana-mana karena tidak punya teman lagi. Jadi saya habiskan waktu dengan bermain bersama adik saya yang paling kecil yang lahir saya memasuki dunia kampus. Serta membaca serta itu tadi, main piano.

Jadi, kembali saat masuk ke hotel di seputaran Jalan Pangeran Jayakarta tadi, saya pun tak bisa melepaskan kerinduan terhadap piano ini. Walau tangan sudah agak kaku, namun saya masih bisa bermain lagu-lagu nostalgia secara klasik. Jadi ingat masa lalu….





Kamis, 25 Desember 2008

Akhir Tahun


Selamat datang di negeri seribu macet


Macet melanda dimana-mana


Resah dan gelisah menunggu macet reda


Kalo pake ini bebas macet gak ya....


Melepas lelah akibat macet di Taman Untung Surapati


Jakarta, oh Jakarta
Jakarta makin padat. Kemacetan melanda di merata tempat. Toyota Alphard yang sengaja kami sewa dari bandara Soekarno/Hatta ini pun berjalan merayap pelan laksana kura-kura. Sementara disisi kanan dan kiri, sepeda motor dan bajaj saling salip.

MENURUT teman saya yang tinggal di Jakarta, di ibu kota ini jarak bukan jadi hal yang terlalu dipersoalkan. Yang menjadi persoalan mereka sebenarnya adalah masalah waktu. Jarak yang hanya beberapa kilometer, ditempuh dengan waktu yang cukup lama. Memang membosankan sekaligus melelahkan. Saya tak bisa membayangkan bagaimana sekiranya saya tinggal dan bekerja di kota terbesar di Indonesia ini.

Akibat macet, kami terlambat mengikuti pertemuan dengan sebuah perusahaan minyak di sana. Janji pertemuan jam 1 siang, baru dapat terlaksana pukul 3 siangnya. Apalagi ketika kami berangkat bertepatan dengan jam usai Salat Jumat dan waktunya masuk kantor. Namun nampaknya sang tuan rumah memaklumi keterlambatan kami, walaupun hidangan yang disediakan untuk makan siang sudah dingin, sekeras hembusan AC di gedung berlantai 52 tersebut.

Beberapa hari lalu, kami serombongan berangkat ke Jakarta. Hampir seluruh jajaran liputan mulai dari reporter kota hingga daerah diboyong ke Jakarta. Sebagai senior, kami pun berusaha menjadikan acara ini tidak begitu formal. Maklum jarang-jarang kami di redaksi bisa berombongan berangkat ke luar kota. Sejak ditetapkannya koran terus terbit di hari libur tanggal merah, maka hampir tak ada waktu bagi kami untuk mengadakan acara di luar kota. Kalau dulu sebelum tahun 2003, setiap ada tanggal merah yang terjepit dengan hari libur, dari jauh hari sudah dibuat rencana kunjungan ke luar kota. Pernah kami berombongan keliling Sumatera Barat dan juga keliling Sumatera Utara. Di acara inilah mungkin semangat tim dapat lebih terbangun lagi.

Namun dalam acara kemarin, yang berangkat hanya rombongan jajaran liputan. Sementara jajaran redaktur tak ikut. Dua acara penting pun kami lakoni di Jakarta, yakni melakukan kunjungan balasan ke perusahaan minyak yang beroperasi di Selat Lalang PT Kondur Petroleum dan silaturahmi dengan Meneg PDT Lukman Edi. Kunjungan pertama ke kantor pusat PT Kondur di Wisma Mulia. Dimana kami masuk dengan pemeriksaan ketat pihak sekuriti hingga di scan foto segala. Dan malamnya dilanjutkan dengan acara ramah tamah dengan Lukman Edi di sebuah café seputara Taman Ismail Marzuki.

Sesuai dengan agenda awal bahwa acara tak perlu formal, maka ada usulan bahwa pada esok harinya akan dilakukan acara jalan-jalan, shopping atau segala macamnya ke Bandung. Saya pun meminta disediakan sebuah bus kecil yang nantinya akan membawa rombongan. Supir dan bus pun sudah distandby-kan di hotel pagi-pagi sekali. Namun sayangnya, banyak rekan-rekan yang ingin menghabiskan waktu di Jakarta saja untuk berbelanja dan jalan-jalan ke Ancol. Maka shopping pun dialihkan ke WTC Mangga Dua dan kawasan sekitarannya.

Pada prinsipnya, acara ini sebagai kegiatan refreshing, maka segala sesuatu pun dibuat senyamannya. Sewa mobil, yang paling mewah, seperti Alphard. Makan ditempat enak ditempat enak seperti Garuda 2000 dan aneka makanan laut di Gunung Sahari. Serta hiburan malam yang juag ditempat berkelas.

Sayang, waktu yang sempit membuat kami mesti bergegas pulang kembali ke kantor. Karena jika tidak pulang, mungkin isi koran akan putih semua tanpa tinta. Ya, apa yang mesti dibaca pelanggan nanti kalau semua reporter tak ada yang buat berita. Memang begitulah kalau kerja di surat kabar harian, setiap hari sibuk terus….***

Senin, 08 Desember 2008

33 Tahun Sudah


Siap-siap...


Intip dulu kadonya..


Hmm...



Raya di Hari Ulang Tahun


Baru sekali ini saya merasakan berulang tahun di hari raya. Diantara kumandang takbir, saya mendapat ucapan selamat ulang tahun dan kecupan di pipi dari istri tersayang. Ah.. makin berkurang jatah hidup di dunia ini.


MUNGKIN karena kebetulan atau entah apa, ulang tahun di hari raya ini jatuh pada hari Senin dimana hari saya dilahirkan 33 tahun yang lalu di sebuah klinik bidan di Kota Duri. Sebagai cucu pertama dari bapak yang merupakan anak tertua di keluarganya. Kalau boleh saya mengira-ngira, mungkin kelahiran saya tersebut penuh pengharapan dan ditunggu-tunggu karena saya cucu pertama dari kedua belah pihak, keluarga bapak dan keluarga ibu. Atau mungkin juga jadi penyatu kedua belah keluarga besar, karena sebelumnya, perkawinan kedua orang tua saya kabarnya ditentang keluarga ibu.

Dua hari menjelang Hari Raya Idul Adha, sang istri minta diantarkan ke rumah orang tuanya. Seperti biasa, jika hari libur tiba, kami akan week end ke rumah nenek Rakha. Maklum, rumah nenek Rakha luas dan berada tepat di tengah kota. Jadi kami yang tinggal di perumahan dengan ukuran tanah terbatas dan terletak di pinggiran kota, akan menghabiskan waktu jalan-jalan ke pusat perbelanjaan kemudian enjoy di rumah nenek. Dan pada Sabtu kemarin, Rakha dan maminya pun nginap di rumah nenek.

Saya pun jadi tidur di rumah sang nenek. Mengingat Senin sudah hari raya, terpaksa saya memboyong perlengkapan salat berikut bajunya. Paginya, saya sengaja meninggalkan HP saat akan pergi salat. Sementara mami Rakha dan ikut salat. Saya pun berangkat salat sendiri ke masjid Agung An Nur karena sang nenek salat di tanah lapang dekat rumah. Saat pulang, keluarga dari Duri telah menelpon ngucapkan selamat Ultah. Tidak lupa pula Telkomsel pun kirim SMS ultah.

Bagaimana rasanya ultah di hari raya? He. He.. ngantuk. Saya bahkan sempat tertidur di sofa usai makan lontong. Ini mungkin karena berhujan-hujan pulang kerja tengah malamnya. Dan bangun pagi-pagi sekali mengejar Salat Id. Jadi mata pun seakan tak mau kompromi saat perut sudah diisi. Bahkan sampai-sampai saat tidur di sofa. Saat terbangun, ternyata keluarga besar mami Rakha telah berkumpul di rumah nenek.

Setelah kumpul semua, mami Rakha pun mengeluarkan kue ultah yang ternyata telah dipesannya. Saya jadi malu, melihat saat lilin dibakar, hehe, sudah 33 coi. Ya, makin berkuranglah jatah umur hidup didunia ini. Ajang makan kue pun dilakukan diiringi ucapan selamat dari keluarga istri. Sebuah kado pun diberikan khusus dari mami Rakha. Apa isi kadonya? Rahasia lah ya…


Jumat, 21 November 2008

Kisah Lama


No comment...


Sedang bersemangat


Jadi malu...


Deni, penggebuk otodidak


Dang dengan topi kesayangannya


Tiga veteran 90-an


Tampil prima

The Bobo
Band yang Gak Pernah Mati


Anak saya akhir-akhir ini lagi lasak-lasaknya. Sejak menggunakan baby walker, ia makin aktif bergerak kesana-kemari. Semua barang-barang yang berada di atas meja, akan berantakan kena jamahaannya. Hingga kami terpaksa menyingkirkan meja tamu dan barang-barang lain yang bisa dijangkaunya.

PAGI itu, saat bangun tidur, saya melihat album foto sudah berserakan di lantai. Ternyata ia berhasil menggapai rak lemari di ruang tamu. Maka berhamburan dan leceklah album-album foto itu. Sementara sang mami, sibuk di dapur menyiapkan sarapan dan membiarkan Rakha dengan aktivitasnya sendiri. Beberapa lembar foto berceceran keluar dari album akibat dilempar dan digiling baby walker.

Mata saya pun tertumbuk pada sebuah album foto lama. Tiga orang sekawan dengan gaya kucel bergaya di depan kamera. He.he. foto lama personel Bobo in The Corner, grup band kami saat kuliah dulu. Saya pun membalik-balik album foto dan tertawa sendiri melihat-lihat tampang kami waktu dulu. Akhirnya, waktu di pagi hari itu saya habiskan untuk membolak-balik album ditemani tarikan-tarikan tangan Rakha.

Band yang kami bentuk dulu, bukan sebuah band yang punya nama besar. Hanya sekedar mengisi hobi kami yang saat itu begitu gila dengan musik. Setiap ada festival di kampus atau di luaran, kami pun tak pernah absen untuk ikut. Walaupun terpaksa harus patungan untuk biaya pendaftaran dan biaya latihan studio. Bahkan saking “kere”-nya, saya pernah jadi bendahara mengumpulkan uang teman-teman setiap harinya Rp1.000 untuk persiapan dana pendaftaran jika ada festival nanti.

Maklum saat itu saya hidup ngekos, jauh dari orang tua dan uang belanja terpaksa dihemat-hemat. Namun dua teman saya lainnya, Dang dan Deni, orang tuanya tingal di Pekanbaru. Namun tetap saja kere karena belum punya pekerjaan dan mengharapkan “belas kasih” orang tua. Tapi walaupun begitu, kami tetap santai dan bahkan menikmatinya. Dengan skill semampunya, dan minim alat band, kami tetap optimis ikut meramaikan jagat musik di Pekanbaru kala itu.

Awalnya, saya tak pernah megang alat musik listrik. Saya yang hanya tamatam SMA di sebuah kota kecil, hanya bisa main gitar kopong sekadar genjarang-genjreng. Itu pun saya bisa main gitar dengan mantap saat duduk di bangku SMA. Gitar yang pertama saya beli dengan uang tabungan sendiri adalah gitra merek kapok punya teman SMA saya bernama Andi. Karena si Andi beli gitar baru, gitar itu pun dilego kepada saya dengan harga Rp5.000. Saat itu di awal tahun 90-an, dalam ukuran saya uang tersebut sudah cukup besar.

Kemudian saat kuliah, saya secara tak sengaja bertemu dengan Dang. Ia saat itu seduah terkenal dengan pengalaman dan skilnya dalam bermusik. Maklum Dang saat sekolah dulu punya grup band yang cukup beken bernama Kid Dog Rapp dimana ia berperan sebagai drummer. Dan saat awal-awal kuliah, Dang pun sudah membentuk grup band bernama Panic. Saya pernah melihat mereka tampil membawakan lagu Pearl Jam saat malam penutupan Ordik di gedung PKM Kampus kami, Unri. Dadang ketika itu pegang gitar, deni drum dan vokalisnya anak Batak Dumai.

Saya hanya sebagai penikmat saja. Tak terpikir untuk terjun dalam dunia band yang kala itu masih jadi barang mewah dan khusus untuk kalangan berduit. Namun ternyata hal itu salah besar. Yang penting punya keinginan dan teman-teman yang seide. Masalah uang, alat dan skil ternyata bisa diasah dan menjadi urusan kedua.

Pertemanan saya dengan Dang, secara tidak langsung membuat saya secara tidak sadar terjun ke dalam dunia band. Awalnya, karena berteman di kampus, Dang sering datang main ke tempat kos saya, dan melihat-lihat koleksi kaset yang saya miliki. Ternyata kami punya banyak kesamaan dalam selera musik. Kami pun sering berdiskusi masalah musik dan grub band terkini kala itu. Hingga akhirnya Dang meminta saya untuk ikut mendirikan grup band bersamanya. Ia mengatakan tidak cocok lagi dengan Panic band akibat perbedaan selera musik. Pada waktu itu, akan diadakan festival unppluged yang diadakan oleh Fakultas Ekonomi Unri di Teater Arena Balai Dang Merdu Pekanbaru.

Tentu saja ajakan ini saya sambut. Namun saya masih belum pede dan menyatakan terus terang belum pernah ikut dalam sebuah grup band. Saya pun didaulat memegang gitar bas dan Deni serta Dadang pada posisi mereka sebelumnya di Panic band. Saya pun mencoba belajar bermain bas lebih keras sambil sesekali didampingi Dang. Sementara Panic band tak kalah juga, kawan kami si Batak Dumai ini pun merekrut teman baik kami Yayat sebagai posisi drum. Bahkan saking menunjukkan eksistensi, Bobo dan Panic bahkan pernah ikut latihan pada jam yang sama di sebuah studio latihan. Walaupun tak saling ejek, nuansa permusuhan kentara terasa.

Saya tak mau ambil pusing masalah internal Dang dan Deni dengan personel band lama mereka. Walaupun saya melihat ada kebencian vokalis Panic terhadap saya. Namun kami tetap terus berlatih setelah usai kuliah. Dengan berbekal gitar kopong, kami pun mencoba-coba mengulik lagu. Kadang-kadang berlatih di rumah saya, kadang di rumah Dang dan jarang di rumah Deni. Akhirnya kami memilih lagu, “High and Dry”-nya Radiohead serta lagu “So Lonely” Sting dan “Blood Money” Bon Jovi dalam ajang Festival nanti.

Nama grup band Bobo in The Corner pun di daftarkan sebagai peserta dan mendapat nomor undian. Nama ini atas saran Dang. Usai mengikuti Technical meeting pada siang, menjelang Maghrib kami pun bergerak menuju Balai Dang Merdu dengan menaiki oplet. Rekan-rekan kampus dan kos ikut mendampingi kami. Saat memasuki ruangan yang berbentuk teater tertutup ini, saya agak sedikit gugup. Kami menyaksikan beberapa grup yang mendapatkan nomor undian awal. Terus terag saya agak takut dan gugup. Gugup karena belum pernah manggung dan takut kalau lampu remang-remang dan saya tidak bisa melihat betotan bas di gitar.

Akhirnya nama grup kami pun dipanggil. Dengan rasa penuh percaya diri kami bertiga pun berdoa terlebih dulu di bagian samping panggung. Terasa suasana agak berbeda jika kita jadi sorotan ratusan pasang mata. Ketika pertama membetot gitar, rasa percaya diri saya langsung tumbuh. Hentakan drum Deni dan kocokan gitar Dang yang sekaligus diringi suara seraknya, membuat lagu High and Dry mengalir lancar dan berhasil membuat penonton terdiam. Guna memecahkan keheningan Dang pun sempat membuat intro lagu Indonesia Pusaka dengan gitarnya yang membuat penonton terbahak. Lagu So Lonely yang kami bawa sontak meraih tepuk tangan penonton yang membuat saya bangga setengah mati. Banyak penonton tidak tahu lagu tersebut karena kami ambil dari album lama Sting. Sementara Blood Money di penghujung manggung berhasil membuat penonton ikut bersama-sama bernyanyi dan malah terjadi koor yang dikoordinir rekan-rekan senior kampus kami.

Awal yang baik dan menyenangkan, so far so good. Hingga akhirnya kami pun terjun dalam dunia band kampus dan mengikuti berbagai ajang festival musik. Uniknya, setiap tampil mengikuti berbagai festival, kami tidak pernah memakai nama yang sama. Setiap tampil selalu berubah nama, walaupun nama Bobo telah menjadi trade mark, kami memakai berbagai nama saat mendaftar. Mulai dari Alam Barzah, Muhasabah, Seks The Truth dan lainnya yang saat ini pun saya lupa apa-apa saja namanya.

Dampaknya, tentu saja ada. Selain rambut jadi gondrong, pada semester di awal ikut ngeband, nilai kuliah saya jeblok. Dari IP 3 koma lebih, turun menjadi kitara hanya angka mendekati 3. Namun masalah nilai kuliah ini, terus terang tidak pernah saya beritahu atau ditanyakan oleh orang tua. Maklum, ortu tidak ngerti apa IP atau IPK ataupun nilai A, B dll. Jadi tidak ada kontrol dari ortu, beda dengan di sekolah dimana ortu yang rutin ngambil rapor. Betul-betul terserah saya saja saat kuliah ini. Mau belajar atau tidak, orang tua tidak pernah tahu. Hanya yang ditanyakan bagaimana beasiswa tahun ini, apa saya masih dapat atau tidak. Itu saja.

Hidup dalam dunia musik, harus hati-hati. Jika tidak, sebentar saja kita akan tergelincir. Tidak bermaksud memburukkan, namun yang namanya narkoba, kala itu gencanr menyerang. Seorang teman dari kampus swasta yang kami ajak ikut gabung bermain musik, menawarkan rokok saat latihan di studio kepada saya. Saat saya buka, di dalam kotak rokok tersebut, penuh dengan lintingan ganja. Kontan saja saya tolak. Termasuk minuman keras, yang terus terang tidak pernah kami jadikan konsumsi. Saya beruntung punya teman yang agak taat dalam menjalankan agama. Jika waktu salat masuk, kami pun menunaikannya. Hingga salat saya yang semula bolong-olong, sejak di musik malah makin teratur.

Di Bobo kami mengusung konsep tiga personel saja. Kala itu, lagi deras-derasnya aliran musik alternatif. Dimana personel cukup hanya tiga orang, drum, bas, gitar yang merangkap vokal. Kami menganut konsep tersebut selain karena aliran musik juga ingin memaksimalkan konflik. Bertiga lebih minim konflik dibanding berlima atau berenam. Malah Bobo akhirnya tinggal saya dan Dang saja yang serius. Sementara drumer kami Deni makin disibukkan dengan kedai bangunannya hingga akhirnya tak hanya absen di band, namun juga berhenti total kuliah. Maklum Deni bapaknya telah meninggal dan terpaksa banting tulang mencari rezeki untuk keluarganya.

Hingga akhirnya kami pun sering membawa teman-teman lain untuk ikut main musik. Baik teman kampus maupun teman lainnya, bahkan pernah mengajak seorang supir traktor jadi pemain gitar melodi. Namanya Elen, yang ketika mendaftarkan nama saat ikut festival, disangka perempuan.

Begitulah, Bobo tetap meramaikan jagad festival musik kala itu meskipun dengan bertukar-tukar personel dan berganti nama. Praktis hanya tinggal saya dan Dang mengusung band ini agar terus berjalan. Kami sempat juga membuat lagu hasil ciptaan sendiri yang dibawakan dalam ajang festival. Sayangnya, lagu tersebut tidak sempat kami rekam. Akibatnya kini kami praktis lupa dengan liriknya yang berbahasa Inggris tersebut. Di malam hari, saat santai, saya dan Dang selalu mengulik-ngulik gitar di paviliun lantai atas tempat kos saya.

Saya tak ingat lagi, kapan terakhir kali manggung. Namun ketika kuliah kelar dan saya masuk dunia kerja, tak pernah lagi saya latihan. Kesibukan membuat kami terpisah. Walaupun saat saya selesai kuliah Dang masih sibuk dengan menghabiskan sisa kredit semesternya, kami jarang berjumpa. Akhirnya Dang selesai juga kuliahnya dan mencoba merantau ke Bandung. Lama juga ia di Bandung hingga akhirnya balik lagi ke Pekanbaru. Lama tak jumpa membuat kami mencoba-coba latihan lagi. Namun karena sudah lama tak pegang alat musik, membuat banyak lagu yang kami hapal jadi lupa. Skil pun seakan berkurang dan tak terlatih lagi. Pernah suatu kali Dang mengusulkan kepada saya agar kami masuk studio dan merekam album. Namun karena terbatasnya dana, hal itu sampai kini tak bisa kami wujudkan.

Kini, saat melihat-lihat album foto dulu, saya hanya bisa tersenyum membayang nostalgia yang pernah kami alami. Ternyata hidup ini mempunyai setiap episode yang nantinya akan jadi bahan nostalgia. Ada episode gejolak muda saat duduk di bangku SMA, dunia musik dan aktivitas perkampusan yang penuh gairah dan kini episode menjadi seorang bapak yang harus menghidupi seorang anak dan istri. Jika ditanya, episode mana yang paling enak, saya akan menjawab episode yang penuh gairah di dunia kampus. Di episode inilah saya mendapatkan tambatan hati, pijakan menuju dunia kerja dan pemenuhan hasrat musik.***




Jumat, 14 November 2008

Area Militer


Duo veteran musik


Mantap


Saat penonton sepi di depan panggung utama


Grup band Nidji sedang beraksi

Musik adalah Jawabannya
Seumur-umur, baru sekali saya masuk ke dalam lokasi parkir pesawat tempur di Lanud TNI AU Pekanbaru. Saya dapat melihat dari dekat bentuk pesawat tempur yang berwarna dominan coklat loreng tersebut parkir berjajar di hanggar. Sebelumnya, saya hanya bisa menyaksikan pesawat tersebut dari jauh di luar pagar saat melewati kompleks Lanud atau melalui foto-foto rekan-rekan yang meliput.

SEBEGITU pentingkah peristiwa melihat pesawat dan masuk ke dalam lokasi bandara Lanud ini saya sampaikan? Bagi kebanyakan orang, memang tak penting-penting betul. Apalagi bagi kawan-kawan rekan jurnalis, sesuatu hal yang biasa mengingat seringnya TNI AU mengajak kawan-kawan meliput kegiatan mereka. Tapi bagi saya yang tak pernah meliput kegiatan TNI AU, peristiwa yang saya alami begitu membuat saya terkesan. Kenapa?

Ya, karena saya masuk ke dalam obyek vital tersebut dan melihat pesawat tempur dari dekat, bersama belasan ribu warga lainnya yang hobi musik. Itu kejadian sekitar dua tahun lalu, tepatnya di hari Ahad. Ketika itu kompleks Lanud dan lapangan udaranya yang selama ini dikatakan sebagai obyek vital, seakan-akan pupus sudah. Warga atau tepatnya para kawula muda menyemut dan memadati tiga panggung besar di tengah lapangan terbang. Sementara pesawat-pesawat tempur itu parkir dengan hanya diberi pembatas berupa pita garis polisi saja. Saat itu konser musik Soundrenalin digelar di kawasan, yang katanya, paling vital dan hanya orang tertentu saja boleh masuk

Bahkan, saking bebasnya, pihak TNI AU menyediakan truk khusus yang disiagakan secara gratis di dua pintu gerbang untuk membawa warga yang akan menonton konser musik paling bergengsi di tanah air itu, masuk ke dalam kawasan lapangan terbang. Saya hampir-hampir tidak percaya bahwa konser sebesar itu dilakukan di dalam area militer. Bersama rekan band saya saat kuliah dulu, kami pun tak ingin melepaskan moment paling berharga ini.

Atraksi terjun payung dan manuver helikopter yang terbang rendah meningkahi aksi panggung grup band Nidji di pentas utama. Tak hanya satu grup musik, belasan grup nasional papan atas serta grup band dari luar negeri menghentak area Lanud Pekanbaru dari pagi hingga malam hari. Suatu hal yang langka, sebuah konser musik diramaikan dengan aksi spektakuler sambil ditonton ribuan warga, dan di kompleks militer lagi. Saya merasa, saat itu TNI AU adalah militer yang paling toleran dan berani serta berhasil memikat hati masyarakat. Mereka telah membuktikan bahwa daerah militer itu bukan kawasan angker yang dipenuhi wajah-wajah garang. Para tentara itu bahkan terlihat ramah dengan senyum yang manis, berbaur bersama kami para penikmat musik.

Itu dua tahun lalu. Dan pada malam minggu di awal bulan ini, saya mengunjungi rekan kuliah saya yang dulu sama-sama gila musik. Di rumahnya, kawan saya ini sedang santai, memutar DVD konser musik sambil memeluk gitar. Memang, saat ini kami jarang berjumpa dan praktis kami tidak pernah lagi latihan ataupun manggung lagi. Maklum umur sudah bertambah dan kesibukan makin banyak.

Kami pun ngobrol hilir-mudik hingga pembicaraan mengarah kepada kompleks TNI AU. ‘’Jalan di kompleks TNI AU sekarang ini ditutup untuk umum,’’ kata saya.

‘’Memangnya kenapa, kan dari dulu juga begitu,’’ jawabnya dengan santai sambil memetik-metik senar gitar.

‘’Tapi sekarang nampaknya akan berbuntut panjang karena yang ditutup dengan portal adalah kawasan perumahan masyarakat yang ada di sekitar kompleks tersebut,’’ jelas saya membalik-balok majalah musiknya.

‘’Kok bisa. Bukannya rumah warga di situ lebih dulu ada daripada kompleks TNI AU. Malahan ada sekolah, masjid dan kantor lurah lagi,’’ tanya sang kawan lagi.

‘’Tak tahulah saya alasannya. Namun nampaknya bakal ada berita seru lagi. Dulu kan pernah juga ada konflik TNI AU dengan warga di sana soal pendirian rumah ibadah,’’ kata saya lagi.

‘’Agaknya perlu juga dibuat konser musik di dalam kompleks itu kayak dulu lagi. Dalam kondisi krisis global ini nampaknya butuh hiburan musik di sana. Jadi suasana agak cair dan fulus pun mengalir,’’ kata sang teman setengah bercanda sambil melihat-lihat isi dompetnya.***


Rabu, 29 Oktober 2008

Di balik layar Anugerah Sagang


Panitia pose bersama,
mana saya?


Trophi diarak ke tengah panggung


Prosesi Anugerah Sagang


Lenggak-lenggok di panggung


Pembawa acara nan memikat


Terpukau tarian


Malu, jangan di foto

Selalu Begitu….


“Lagi dimana, tolonglah ke bawah sebentar, dibelakang panggung. Tak ada orang yang mau ngangkat podium. Sebentar lagi acara dimulai….”

SUARA di telepon gengam itu terdengar nyaring dan nadanya sangat-sangat khawatir. Malam itu, dibalik kaca kamar lantai 10 Hotel Ibis Pekanbaru, saya mencoba melongokkan wajah melihat suasana di bawah. Di seputar kolam renang masih terlihat tamu sedang menikmati makan malam. Sementara di area parkir, antrean kendaraan sibuk mencari lokasi parkir mobil mereka dan nampak masih banyak tamu yang berjalan menuju ruangan aula. ‘’Ya, kami di kamar. Tunggu sebentar, kami akan ke sana,’’ ujar saya sambil mengemas-ngemas ratusan tas berisi buku-buku yang akan diserahkan nanti kepada tamu.

Begitulah, selalu begitu. Hampir di setiap acara budaya Anugerah Sagang yang setiap tahun rutin dilaksanakan Riau Pos, saya dan rekan se geng, Kadir, selalunya kebagian mengangkat podium. Padahal dalam daftar kepanitiaan, begitu banyak nama yang berbakat dan mempunyai keahlian angkat-mengangkat. Namun kami tidak mempermasalahkan hal tersebut dan hanya senyum-senyum saja.

Ya, begitulah, mengangkat podium di atas panggung yang dihadiri ratusan tamu memang tak membuat kami terbebani. Malah kami enjoy saja demi kesuksesan acara budaya nan bergengsi ini. Namun ada tak enaknya, kena sindir di rumah oleh istri, mertua atau teman-teman. Hal ini tak lain karena acara Anugerah Sagang ini disiarkan langsung oleh Riau Televisi dan disaksikan masyakarat Riau. “Eh, tadi papi masuk di tipi di acara Sagang. Cuma sebentar kok, lagi ngangkat podium,’’ ujar nyonya di rumah sambil terkekeh.

Atau olok-olokan lain dari teman-teman. ‘’Ah, katanya menjabat sebagai Koordinator Bagian Umum di Sagang, tapi kok kerjanya ngangkat podium,…” Namun biarlah, yang penting apa yang bisa dikerjakan, ya dikerjakan. Tak peduli jabatan di kantor atau di panitia apa, yang penting ya kami kerja saja. Karena bagian mengangkat podium, membawa papan cover buku untuk ditandatangani, memang setiap acara sagang selalu kami lakukan. Selain kegiatan bagi-membagi ratusan undangan untuk para budayawan, seniman, pejabat, kalangan wartawan, konsul asing, pihak bank, kalangan pengusaha hingga mahasiswa beberapa hari sebelumnya.

Malah seorang rekan yang setiap tahun menjadi “driver” tetap untuk mengantar undangan sempat mengatakan bahwa apa jadinya kalau kami mundur atau tak ikut dalam daftar kepanitiaan anugerah besar ini. Pasti yang mengantar undangan untuk tamu akan kerepotan sekali. Karena undangan tak dilengkapi alamat yang jelas dan hanya berupa nama tamu saja. Bisa-bisa undangan tak sampai-sampai. Tapi menurut saya, biasa saja, Cuma memang butuh tanya sana-sini dan perlu waktu panjang jika pengantar undangannya dilakukan orang lain. “Masa seorang koordinator liputan Riau Pos tugasnya mengantar undangan,’’ ejek yang lain kepada Kadir, rekan se geng.

Namun kerja keras itu pun akhirnya terbayar. Malam Anugerah Sagang ke-13 tahun 2008 ini bisa dibilang sukses. Ratusan tamu menempati aula Hotel Ibis dengan panggung berupa kipas yang dilengkapi tiga screen TV besar yang menyiarkan acara di televisi sekaligus sebagai penghias panggung. Bahkan kamera dengan berputar yang khusus untuk acara live di ruangan pun dipasang dalam gedung agar acara nampak lebih nyata di televisi.

Apa kerja kami selanjutnya selain ngangkat podium? Ya, itu tadi menurunkan 500 tas yang berisi 8 buku karya budayawan yang diterbitkan Yayasan Sagang. Dari kamar lantai 10, dengan troli hotel dibantu seorang room boy, kami pun bergotong royong melansir tas-tas tersebut ke belakang panggung. Saya lihat peluh bercucuran di pelipis sang room boy akibat turun naik membawa tas-tas tersebut. Perlu juga nampaknya jerih payahnya dihargai sedikit dengan materi, dan ia pun tersenyum bahagia saat melihat saya saat acara usai di meja resepsionis.

Namun disaat acara telah berakhir, ada sedikit kejadian yang membuat kami jengkel. Hingga kami pun dengan sangat terpaksa meninggalkan ruangan aula dan teman-teman lain guna mengisi perut yang keroncongan akibat belum makan malam. Dengan masih berpakaian ala Hang Tuah, kami pun menikmati makan malam di Cikapundung Pasar Sukaramai Jalan Sudirman. Kami lalu menghabiskan sisa malam di lain hotel. Sambil menikmati siraman air hangat di shower yang menyegarkan tubuh akibat keringat yang lengket di badan, segar……



Rabu, 20 Agustus 2008

akikah


My son, Rakha Rizqullah Syauqi


Menangis terharu


Potong rambut


Berdoa

Digendong tante jum


Grup rebana nenek Rakha beraksi


makanan akikah

Anak Mahal


SIAPA yang tak bahagia mempunyai anak. Orang yang bodoh dan terkutuklah yang tak mensyukuri karunia berupa anak yang telah diberikan oleh Allah SWT. Dulu sebelum mempunyai anak, saya selalu emosi jika melihat berita di televisi dan surat kabar ada orang tua yang dengan tega membuang bahkan membunuh anak mereka. Orang tua itu dalam pandangan saya telah berubah menjadi iblis dan setan yang berwujud manusia. Mengingat begitu banyak pasangan suami istri yang saat ini belum dikaruniai anak.

Di kantor saya saja, jika dihitung, ada sekitar kurang lebih delapan orang yang saat ini belum diberikan amanah memomong bayi. Ada yang telah kawin hampir sepuluh tahun, tapi nampaknya harus bersabar karena tak juga memperoleh sang buah hati. Bahkan banyak yang telah berobat kesana-kemari hingga ke luar negeri, tapi belum juga menampakkan hasil. Belum rezeki nampaknya. Memang memiliki anak merupakan misteri dan hanya Allah SWT saja yang mengetahuinya.

Saya juga merasakan episode mendebarkan dalam memperoleh anak. Semua ujian saya hadapi dengan tabah. Namun saya yakin, jika tuhan berkehendak maka saya pasti akan mempunyai anak. Namun saya tak melulu hanya berharap dan berdoa, saya juga berusaha sekuat tenaga untuk mencapainya. Tentunya dengan jalan berobat. Alhamdulliah, anak kami, Rakha, lahir dengan selamat. Kini tinggal bagaimana saya menjaga rahmat yang telah diberikan dan mempersiapkan yang terbaik bagi anak kami.

Sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW bahwa seorang anak jiwanya akan tergadai jika belum di akikahkan. Sebelumnya, istri saya sempat menyampaikan nazar bahwa jika anak kami lahir maka akan segera diakikahkan. Bahkan ia berkeras mengatakan kepada saya bahwa akikah tak akan sah jika tidak dilakukan sebelum bayi berumur 28 hari. Saya pun sempat mengatakan bahwa batalkan saja nazar itu, karena nanti akan berdosa jika tidak terlaksana. Mengingat bayi kami akan dilahirkan secara operasi caesar dan memerlukan biaya besar.

Namun Alhamdulliah, akhirnya acara akikah anak kami dapat terlaksana juga. Tepat enam bulan kelahirannya, 10 Agustus lalu, acara kami lakukan di rumah. Dua ekor kambing pun menjadi santapan para tamu. Karena tak ada yang bisa masak, maka semua masakan termasuk nasi dan kambingnya kami pesan saja di rumah makan. Menjelang masuk Zuhur, acara prosesi akikah pun dimulai. Doa-doa pun dibacakan ustad agar anak kami menjadi anak yang soleh dan dirahmati oleh Allah serta berguna bagi semuanya.

Guna memeriahkan acara, maka gurp rebana neneknya pun diundang guna memeriahkan suasana. Marhaban pun berkumandang saat dilakuakan acara potong rambutnya oleh kakek dan neneknya, kami para orang tua serta tetangga. Beruntung anak kami memiliki rambut yang lebat. Kalau tidak, bisa botak jadinya. Walaupun mengeluarkan biaya yang tak sedikit, namun kami merasa senang dan bersyukur atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan.***